[Tema 3] Rajutan Terindah

Memandang langit sambil duduk di tempat kesukaanmu sambil mengobrol—lebih tepatnya menggosip buat kami—bersama orang-orang yang paling kaukasihi. Sebuah kejadian sehari-hari yang indah, yang membuat kita terpaksa mengeluarkan air mata saat kau tahu kau tak bisa melakukan itu lagi.

Kadang aku berfikir, awan-awan diatas sana juga bersahabat, sama seperti kami. Mereka melindungi orang-orang di bawah bersama-sama setiap saat. Setiap saat, indahnya jika aku dan mereka bisa bersama setiap hari.

“Dulu kita sering gak sengaja ketemu di sini. Aku rasa Tuhan telah merencanakan ini. Tuhan ingin kita bersama seperti ini,” gumamku.

“Ku rasa tiga saat tuhan ingin kita seperti dulu lagi, jarang bertemu dan mengobrol.” Aku yakin dengan apa yang Azkia katakan, walaupun aku benci itu dan tidak ingin hal itu terjadi.

“Hei, sudahlah. Jangan bicarakan tentang itu,” pinta Mona. “Menurutmu, apakah awan-awan yang sudah dipenuhi oleh mimpi-mimpi kita akan mewujudkan cita-cita kita?”

“Awan itu bukannya teman kita?” tanya Azkia.

“IWAN!” seruku dan Mona.

“Iwan itu bukannya nama mamang yang jual es serut di depan sekolah?” tanya Azkia lagi. Ia dengan asyiknya mencoba bergantungan dari dahan temaptnya duduk ke dahan lainnya.

     Bruk!

“Sial, sakit woy!” serunya sambil menahan air mata.

“Kamu sih, monyet diikutin,” ucapku. “Aduh, jangan nangis dong. Permen aku habis nih.”

“Aduh, gak usah repot-repot, Lisa. Pulsa sepuluh ribu aja cukup.” Dasar Azkia. Entah mengapa setelah itu kami tertawa bersama-sama. Aku akan merindukan hal ini, pasti.

“Haha. Udah, mendingan kita pulang sekarang,” saran Mona. Kami terus berjalan, hingga melewati gerbang sekolah. Aku bersyukur punya sekolah yang memiliki lapangan yang luas, walaupun bukan salah satu sekolah terbagus di kota ini.

Tentu saja semua makhluk hidup punya bayangan. Dan sekarang bayangan kami seperti menyatu. Bayangan yang tuan-tuannya sedang menunggu angkot. Biasanya hanya kami bertiga anak yang berbaju putih-merah di angkot yang kami naiki. Pasti. Pasti aku akan mentangisi bayangan-bayangan kami yang seperti menyatu, walaupun itu hal yang sangat sederhana.

“Kita gak bisa terus seperti ini selamanya, kan?”

Semuanya terdiam. Mona benar.

Ya, memang tidak bisa. Azkia akan melanjutkan pendidikannya di sebuah asrama di luar kota ini. Tentang Mona, ia masih ada kemungkinan bersamaku.

“Tapi persahabatan kita bisa terus seperti ini selamanya, kan?” Semuanya tersenyum, lalu kami berpelukan layaknya Teletubis. Terserahlah apa yang orang pikir tentang kami.

Sayangnya angkot yang sesuai dengan jurusan Azkia dan Mona sudah ada di depan untuk menawarkan jasa mereka.

***

     Rapat orang tua dan guru bukanlah sekedar rapat orang tua dan guru ternyata. Disitulah aku bisa mengetahui apakah aku dan Mona masih bisa bersama, jika kami tak ingin repot-repot berkunjung ke sekolah itu langsung.

“Pak, saya lulus gak?” tanyaku kepada Pak Asnawi setelah rapat selesai. Orang tuaku tidak bisa hadir saat ini. Selain aku, ada beberapa anak lainnya yang ikut tes di sekolah menengah pertama favorit itu, termasuk Mona.

Pak Asnawi memberikan sebuah kertas kepada Syara, salah satu temanku. Di kelas, kami sangat dekat. Tak jarang aku, Azkia, dan Syara mengerjakan tugas bersama-sama. Ditambah Annisa sebenarnya.

Ternyata kertas itu adalah daftar anak dari sekolah kami yang lulus seleksi penerimaan siswa baru sekolah itu. Dan namaku ada di bawah Syara. Tertulis angka 47 di sebelah namaku. Di bawah namaku, ada delapan nama lainnya. Namun tidak ada nama Mona.

Aku, Mona, dan Azkia menjauh dari kerumunan orang-orang yang haus akan informasi itu. Kulihat mata Mona berkaca-kaca. Akupun juga jadinya, karena memikirkan bagaimana aku bisa melewatkan jam istirahat tanpa salah satu dari mereka?

Ya, kita tidak bisa seperti ini selamanya. Bertiga selamanya hanyalah mimpi.

Dan kami berpelukan lagi.

***

     Jika saat pulang sekolah kami menyantai di salah satu pohon di sekolah, lain halnya dengan jam istirahat. Di jam istirahat kami lebih suka duduk bersandar di tiang di tengah pendopo sekolah kami yang terbuat dari kayu sambil makan jajanan, mengosip, dan sesekali melirik ke rombongan anak laki-laki.

Seperti jam istirahat kali ini. Setelah membeli beberapa snack di koperasi sekolah, kami langsung ke pendopo. Jarang kami mendapatkan tempat itu sudah diambil dengan rombongan lain.

Setelah itu kami duduk. Tiang di tengah pendopo berbentuk balok. Tempat sandaranku menghadap ke pohon yang setiap pulang sekolah kami naiki. Tentang Azkia dan Mona, Azkia duduk di sebelah kiriku, dan Mona duduk di sebelah kanan.

Setelah menghabiskan snack kami dan berdebat tentang siapa yang lebih baik, antara orang yang kusuka dan orang yang Azkia suka—tentunya perdebatan ini antara aku dan Azkia, aku mengajak mereka untuk berjalan-jalan di sekitar halaman sekokah. Mereka mengiyakan.

Oh Tuhan, ternyata perdebatan ini masih berlanjut. Dan Mona sebagai penengah saat  ini tidak berfungsi. Ia terlalu asyik menikmati perdebatan ini.

Karena kami berjalan sambil berdebat, kami tidak sadar bahwa dari tadi kami hanya mengelilingi pendopo. Mona-lah yang ingat hal itu pertama kali. “Woi, dari tadi kita cuma muter-muter keliling pendopo!”

Diam sebentar, dan akhirnya kami tertawa bersama-sama.

Setelah itu yang kulakukan, “Mami jelek, mami jelek!” Aku segera berlari, dan Azkia mengejarku.

Aku berlari ke arah pohon kecil yang baru ditanam. Dan dari belakang aku mendengar suara Mona tertawa. Dalam hal tertawa, suara tertawa Mona masih normal, seperti kebanyakan dari kita. Sesuatu.

Ternyata kaki Azkia salah menginjak tanah. Kakinya menginjak tanah di sebuah lubang kecil. Dan selanjutnya ia terjatuh—begitulah kesaksian Mona.

“Cara jatuhnya lucu.” Mona mempraktekan apa yang baru Azkia alami. Sekarang aku tak bisa menahan tawa.

Setelah itu Azkia mengajak kami untuk duduk di bawah pohon kecil yang baru ditanam. Sebenarnya daunnya masih sedikit. Kami sering melihat anak laki-laki duduk di bawah pohon itu di tengah terik sang Surya sepeti sekarang. Mungkin Azkia ingin mencobanya.

Duduklah di bawah pohon seperti itu sama saja tidak duduk di bawah pohon. Namun, rasanya sangat nyaman. Apalagi jika sang Surya sedang bersembunyi. Bukan hanya aku, Azkia dan Mona juga beranggapan seperti itu.

“Hmm, apa mungkin cerita tentang mimpi-mimpi kita akan terwujud? Atau menghilang seperti awan di musim panas?” tanya Mona.

“Harus, Mona. Kita harus optimis. Aku akan terpilih menjadi peserta olimpiade di SMP nanti!” Bicara soal mimpi, sepertinya diantara kami, akulah yang paling banyak bermimpi.

“Kalau mimpi kita bisa bersama selamanya?” Pertanyaan Azkia membuat kami terdiam.

***

     Biasanya kami hanya bisa melihat anak laki-laki sedang memainkan bolanya di saat-saat pulang sekolah seperti ini. Dan sekarang, kami mendapatkan sebuah kejutan. Kami bisa melihat matahari tenggelam bersama, di tempat biasa.

Guru-guru memang sudah kelewatan memberikan les tambahan. Hari ini les tambahan menjelang UN berakhir jam enam sore kurang. Mendadak, sehingga kami harus mengeluarkan pulsa untuk memberi tahu orang tua kami.

Tapi inilah yang kutunggu-tunggu. Sejak dulu kami mengkhayal bisa melihat matahari tenggelam bersama-sama. Dan ini sangat indah dibandingkan melihat daftar ujian yang kami akan lewati.

“Matahari boleh tenggelam, tapi persahabatan kita gak boleh tenggelam dimakan jarak,” gumamku. Mereka menyetujui apa yang barusan kukatakan.

Karena jemputan Mona sudah datang, saatnya untuk kami meninggalkan sekolah ini. Karena tidak ada yang bisa menjempuku jam segini, Mama menitipkanku di rumah Mona. Tentang Azkia, ia hanya menumpang sampai rumahnya yang memang searah dengan Mona.

“O iya, aku tau sebuah lagu. Aku rasa kalian akan suka ini. Ceritanya sama dengan kisah yang akan kita alami.” Mona menyetel sebuah lagu di pemutar CD-nya.

Walaupun aku tidak tahu apa arti dari lagu tersebut karena lagu itu berbahasa Jepang, tapi menurutku ini lagu yang sangat indah. Suara si penyanyinya juga indah.

“Keren! Judul dan yang nyanyinya siapa?” tanya Azkia.

“My Friend, YUI.”

Semenjak itu kami sering menyanyikan lagu itu bersama.

***

     Jika kita melewati hari-hari yang bahagian dan berarti bersama orang yang akan berpisah dengan kita, maka hasil rajutannya sangatlah indah, seperti rajutan masa sekolah dasarku. Rajutan kenangan yang indah, tak akan seorang pun yang bisa merampasnya.

Memang betul kata orang-orang, sahabat terbaik adalah sahabat saat sekolah dasar. Tak ada yang bisa menandingi mereka sampai sekarang. Terima kasih, Azkia, Mona.

Hai, aku Lisa. Sekarang aku adalah murid kelas 7D di SMP baruku.

     “Ano koro atashi tachi wa itsumo

      Guuzen no furi wo shiteita

      Houkago no GURANDO de yuku bashou mo nakute

      Yuugure wo nantonaku miteta”

Sial, program musik yang sedang ditonton oleh teman-temanku sedang memutar lagu My Friend-nya YUI.

“Kamu kenapa nangis, Lis?” tanya seorang temanku. Aku hanya menjawab tidak ada apa apa-apa, dan aku hanya mengantuk.

Kalau boleh jujur, aku belum mengucapkan selamat tinggal kepada Azkia dan Mona. Takkan. Karena mereka sudah dihatiku dan dipikiranku selamanya.

Ditulis oleh Aulia Zafaran untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s