[Tema 6] Ibu (Wanita Biasa)

“Oaaa…oaaaa…”

Keluarlah aku dari ruangan gelap dan cukup sempit itu. Sebetulnya aku ingin berteriak “merdeka!” tapi aku takut sang bidan langsung pingsan. Tuhan telah mentakdirkan aku lahir dari seorang wanita yang biasa saja.

 

Tak terasa waktu terus berjalan sampai akhirnya aku tumbuh remaja (walaupun tubuhku tetap terasa kecil). Setelah menginjak remaja barulah aku sadar, ternyata Tuhan telah mentakdirkan aku lahir dari seorang wanita yang luar biasa.

“Siapa yang menyuapiku ketika aku lapar?”

“Siapa yang merawatku ketika aku sakit?”

“Siapa yang mencebokiku ketika aku buang air?”

Dan jawabnya adalah “ibu”.

Menginjak usia di kepala 4, kondisi tubuh ibu mulai melemah. Darah dalam tubuhnya merayap naik menjadi tinggi. Namun beliau tidak pernah ingin mensiratkan kesakitan yang menyandera hidupnya. Ibu tetap berjuang membantu biaya anak-anaknya untuk berenang di ladang ilmu. Berbagai jenis pengobatan pun telah dilalui demi kesembuhan ibu (kecuali via dukun).

 

Rona merah langit pagi seakan ikut tersenyum menyambut kondisi tubuh ibu yang semakin membaik pagi itu. Syukurlah tekanan darah ibu kali ini mulai merosot seperti anak-anak yang gagal mengambil hadiah panjat pinang. Sesuai nazar ibu, jika kondisi badannya membaik ibu akan mengadakan syukuran bersama keluarga dan teman-teman pengajiannya. Syukuran itu pun akan diadakan minggu depan di rumah sederhana kami.

 

Sehari sebelum syukuran, aku senang melihat ibu bisa tertawa terbahak-bahak menonton film lucu dengan keluarga. Namun di tengah tawa tiba-tiba…

“aduuh..aduuuh..sakiiit…” jerit ibu sambil menahan rasa sakit yang tak terelakkan.

Tubuh ibu tergeletak lemas tak berdaya setengah hilang kesadaran. Lalu ayah dengan cepat membawa ibu ke rumah sakit.

 

Tak lama kemudian setelah mendapat kabar bahwa ibu telah mendapat perawatan, aku pun segera menyusul ke rumah sakit dengan abang iparku. Sesampainya di sana kulihat ruangan rawat ibuku telah kosong. Lalu aku serentak keluar dan datanglah ayah menghampiri sambil memberitahuku bahwa ibu telah tiada. Saat itu langsung melintas di benakku semua kenangan yang telah aku jalani bersama ibu. Dinginnya malam itu tak mampu menahan air mataku yang jatuh membasahi lantai rumah sakit.

 

Esoknya semua keluarga dan teman-teman ibu berkumpul, bukan untuk hadir dalam sebuah syukuran tapi sebuah acara pemakaman. Kini tak ada lagi orang yang pertama aku cari ketika bangun tidur, ketika aku lapar, dan ketika aku sakit. Mungkin aku harus mulai belajar mandiri tanpa hadirnya. Sebuah kalimat yang sering terlontar dari mulutku ketika melihat orang lain yang bersikap biasa saja terhadap ibunya, “sayangi ibumu selagi dia ada”. Dan aku yakin di surga sana ibu bisa mendengar aku yang selalu mendoakan dan menyanyikan sebuah lagu yang dipersembahkan untuknya “to Mother”.

Ditulis oleh Tommy Tackur untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

4 thoughts on “[Tema 6] Ibu (Wanita Biasa)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s