[Tema 7] Laut dan Kenangan

Matahari secara perlahan mulai terbenam dan keindahan langit senja mulai terlihat. Angin yang bertiup sepoi-sepoi, deburan suara ombak, dan pasir pantai yang berwarna hitam menemani seorang gadis cantik berambut hitam dan panjang, berkulit putih dan tidak terlalu tinggi yang bernama Sani yang sedang duduk di tepi pantai sambil memandangi laut biru.

Sebulan sekali Sani dan kakak laki-lakinya yang bernama Surya selalu datang ke pantai itu. Pasir pantainya yang berwarna hitam dan laut yang masih terjaga kebersihannya membuat Surya dan Sani sangat suka tempat itu. Tapi, sejak setahun yang lalu, Surya tidak bisa lagi menemani Sani pergi ke pantai itu.

“Apa kakak baik-baik saja disana? Sani datang untuk menemui kakak”, kata Sani.

Sani tak mampu menahan air matanya agar tidak menetes sore itu, dan kejadian setahun yang lalu kembali terlintas di ingatannya.

Hari itu adalah ulang tahun Sani yang kelima belas. Surya memberikan kado ulang tahun sepeda untuk adik kesayangannya itu yang dia beli dari gaji pertamanya. Sani merasa sangat senang hari itu, sehingga dia memutuskan untuk mencoba sepeda barunya dan pergi ke pantai itu bersama kakaknya.

“Kak Surya, tunggu Sani. Jangan cepat-cepat dong”, kata Sani, dengan sedikit berteriak.

“Ah, dasar lelet. Kayuh sepedanya lebih cepat lagi”, kata Surya.

Sepuluh menit kemudian mereka pun sampai di tempat tujuan. Sani memarkir sepedanya dan meletakkan sandalnya di keranjgang depan sepedanya lalu Sani segera berlari kepantai.

“Laut…”, teriak Sani.

“Kalau sampai disini kamu selalu saja kegirangan seperti itu. Dasar anak aneh”, ejek Surya.

“Aneh-aneh begini adik kak Surya juga kan. Berarti kakak lebih aneh lagi. Hahaha..”.

“Dasar adik durhaka”.

“Biarin”.

Setelah lelah berjalan sepanjang pantai dengan telanjang kaki, kakak beradik itu memutuskan untuk istirahat sebentar sambil menikmati indahnya langit senja, laut biru dan suara ombak.

“Ternyata adik kakak sudah besar ya”, kata Surya sambil mengacak-acak rambut Sani.

Sani memandangi kakaknya sambil tersenyum. Biasanya Sani akan merasa tenang saat memandangi wajah Surya, tapi kali ini, ada suatu kecemasan yang melanda hati Sani. Ada apa ya? Kata-kata itu yang sekarang terlintas di benak Sani. Tapi Sani, segera menghapus semua hal buruk yang ada dipikirannya. Semua pasti baik-baik saja.

“San, kok bengong? Ada yang salah di wajah kakak?”, tanya Surya.

“Ah, gak ada kok. Tapi, setelah Sani perhatikan, ternyata kak Surya ganteng ya”.

“Kamu baru sadar ya”.

“Walaupun kakak ganteng tapi kenapa kakak gak punya pacar ya?”, tanya Sani.

“Kakak memang belum mau punya pacar. Kakak masih ingin main sama adik kakak yang manis ini”, kata Surya sambil kembali mengacak-acak rambut Sani.

“Sani, jadi terharu”, kata Sani yang kemudian memeluk kakaknya.

“Nanti kalau kakak sudah gak bisa nemenin Sani, kamu baik-baik ya”, kata Surya yang masih memeluk Sani.

“Memangnya kakak mau kemana?”, tanya Sani.

“Siapa tahu saja ada putri raja yang mau sama kakak, jadi kan kakak harus tinggal di istana”, kata Surya dengan nada bercanda.

“Mana ada putri yang mau sama orang kayak kakak.”

“Adik nakal, sini kamu, kakak cubit”.

Sani pun berlari sebelum kakaknya sempat mencubitnya. Sore itu semua terasa menyenangkan. Laut pun menjadi penonton tingkah kekanak-kanakan kakak beradik itu.

Matahari sudah tak menampakkan sinarnya lagi. Langit semakin gelap dan bintang pertama di langit sudah bersinar. Hari berlalu begitu cepat dan sudah saatnya mereka berdua untuk pulang karena malam ini mereka sekeluarga akan merayakan ulang tahun Sani.

“Kak, terima kasih untuk hadiahnya dan untuk semua hal hari ini”, kata Sani.

“Sama-sama adik kakak yang manis”, kata Surya sambil tersenyum.

“Ayo pulang, ibu pasti sudah masak enak untuk ulang tahunmu hari ini”, kata Surya lagi.

Surya membiarkan Sani memimpin jalan. Hari semakin gelap, hanya cahaya lampu jalan yang remang-remang yang menemani mereka mengayuh sepeda mereka masing-masing. Kendaraan bermotor pun hanya sedikit yang lalu lalang, sehingga membuat mereka santai mengayuh sepedanya.

Rumah mereka sudah dekat, empat menit lagi merekan akan sampai dirumah dan menikmati masakan lezat ibu mereka. Sani sudah menyebrang jalan lebih dulu. Namun saat Surya akan menyebrang, dari arah belakang datang sepeda motor dengan kecepatan tinggi yang akhirnya menabrak Surya.

Mendengar suara benturan yang keras, Sani menoleh ke belakang dan dilihatnya kakaknya sudah tergeletak di atas aspal berlumuran darah. Sani melempar sepedanya dan berlari ke tempat Surya tergeletak.

“Kak, bangun kak”, Sani mengguncang-guncangkan tubuh Surya. Namun Surya tetap tidak bergerak.

“Kakak……”

*****

“Sani, Sani…”

Sani mendengar ada suara yang memanggilnya dan itu membuatnya tersadar dari lamunannya. Pipinya terasa basah, ternyata dia menangis selama terhanyut dalam lamunannya tadi.

Ternyata yang memanggil namanya adalah ayah dan ibunya yang sekarang berada didepan matanya membawa kue ulang tahun untuknya. Hari ini hari ulang tahunnya dan juga hari kematian kakaknya Surya.

Sani menghapus air mata di pipinya dan tersenyum pada ayah dan ibunya.

“Ayo tiup lilinnya, sayang”, kata ibunya.

Sebelum meniup lilin ulang tahunnya yang keenam belas, Sani berdoa kepada Tuhan.

“Tuhan, terima kasih untuk semuanya”, kata Sani dalam hati dan dia meniup lilinnya.

Ayahnya memberikan kado ulang tahun yang dibungkus dengan kertas kado berwarna merah muda pada Sani. Sani memeluk kedua orang tuanya dan lagi-lagi laut menjadi saksinya.

“Kak Surya, kakak baik-baik saja kan disana. Lihatlah, Sani, ayah, ibu, kami semua baik-baik saja disini. Sekarang Sani sudah enam belas tahun. Sani ingin menjadi orang yang lembut dan penuh semangat seperti kakak. Sani bahagia bisa jadi anak ayah dan ibu dan menjadi adik kak Surya. Kita semua sayang kak Surya”, kata Sani dalam hatinya.

Hembusan angin pantai yang menyejukkan menerpa wajah Sani. Walaupun yang ada di pantai itu hanya mereka bertiga, tapi Sani merasakan kalau Surya juga ada disana. Tersenyum untukknya.

“Kak, Sani akan datang untuk mengunjungi kakak lagi saat ulang tahun Sani tahun depan”.

Sani menggandeng tangan ayah dan ibunya dan mereka pun meninggalkan pantai itu. Perlahan suara ombak mulai menghilang dan akhirnya tak terdengar lagi oleh telinga, tapi laut itu akan selalu menjadi kenangan.

Ditulis oleh Kompyang Supartini untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s