[Tema 8] Ini Jalanku

Keringat dingin mengucur di badan Aya. Sebagai orang yang mudah mengeluarkan air mata, ketakutannya sudah tak bisa ditahan lagi untuk menghadapi fakta bahwa ia dan Riska tesasar di sebuah gua dengan banyak lorong bercabang. Ponsel maupun GPS tidaklah berguna saat itu. Selain kehilangan jalan, mereka juga kehilangan signal.

Satu-satunya cara untuk bertahan hidup adalah mencari jalan keluar. Namun, mereka terlalu takut untuk mencari itu. Salah masuk lorong, di situlah mereka tinggal selamanya.

“Oke, kita ngambil lorong sebelah kanan.” Aya setuju-setuju saja dengan apa yang Riska ucapkan. Insting dan logikanya berkata sama.

Mereka berjalan. Tak lama, mereka menemukan cabang lain.

“Umm, sekarang kita ngambil lorong sebelah kanan.”

Ternyata, insting dan logika Aya berkata lain.

“Gak! Lorong sebelah kanan terlalu banyak …. Aku akan memilih lorong di tengah.”

“Helo, jangan bodoh! Lorong di tengah terlalu gelap. Sekarang, ikut aku.”

“Kakak, ini hidupku! Izinkan aku memilih jalanku sendiri. Aku punya kehidupan juga, kak.”

“Aku kakakmu, Aya. Aku tau apa yang terbaik untukmu. Aku akan melakukan yang terbaik untukmu.”

“Aku rasa ini yang terbaik untuk aku lakukan untukku dan kakak. Aku tau apa yang terbaik untukku.”

“Jangan bodoh! Lorong di tengah terlalu gelap.”

“Dan lorong sebelah kanan telalu berbahaya, walaupun lebih terang.” Aya menarik nafasnya dalam-dalam, lalu melanjutkan apa yang ingin ia katakan. “Sudahlah kak, ini hidupku, dan aku yang akan mengambil resikonya. Aku percaya dengan diriku. Aku percaya, itu yang terbaik. Aku akan baik-baik saja.”

Riska berfikir sebentar untuk mencari jalan keluarnya. Setelah itu, “oke, sekarang kita memilih jalan kita sendiri. Kita punya kehidupan masing-masing, bukan? Aku harap kamu tidak ragu-ragu memilih jalanmu. Tentangku, aku tak ragu mengambil jalan ini.”

“Aku tak ragu mengambil jalan ini, kak.” Aya tak tahan untuk memekuk kakaknya itu. Sebenarnya ia takut bahwa jalan yang diambilnya dan Riska bukan jalan keluarnya.

“Aku cinta kamu. Jaga dirimu selalu!” Riska memeluk adiknya semakin erat. Ia tak mau kehilangan adiknya. Ia rasa jalannya yang terbaik untuk mereka.

Mereka pun terpisah.

Aku percaya dengan apa yang kupilih, batin Aya.

***

Selama sejam lebih Aya mempercayai jalannya. Dan sekarang ia bisa melihat birunya langit.

Ibu, ayah, dan keluarga lainnya memeluk Aya dengan erat sambil menangis bahagia.

“Mana Riska?” tanya Ibu.

“Aku gak tau,ma. Kami berpisah. Aku memilih jalanku sendiri.”

Aya hanya berharap kakaknya memilih jalan yang benar, walaupun lebih panjang dari jalan Aya.

Tapi kenyataannya Riska memilih jalan yang salah. Dua jam kemudian, Riska ditemukan terperangkap di bawah batu besar tanpa nyawa.

Namun, itulah yang terbaik buat Riska berdasarkan apa yang ia tulis di surat yang ia buat untuk jaga-jaga.

Halo Ibu, Ayah, Aya, dan semuanya.

Jika kalian membaca surat ini, berarti aku memilih jalan yang salah. Tapi percayalah, ini yang terbaik buatku, dan aku percaya itu. Aku sudah capai hidup di bawah naungan kanker. Aku tersiksa. Dan sekarang, aku mendapatkan kebahagiaanku. Untuk Aya, aku tidak ragu-ragu memilih jalanku, walaupun salah. Terima kasih atas kepercayaanmu terhadap dirimu sendiri. Untuk Ibu dan Ayah, aku minta maaf untuk semuanya.

Ditulis oleh Aulia Zafaran untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s