[Tema 10] Sa-Yo-Na-Ra

Nafasku terengah-engah. Baru saja kubuka pintu itu dan melihat dia terbaring diranjang. “Kei…kamu baik-baik aja?” tanyaku khawatir.

Keito tersenyum. “Seperti yang kamu lihat. Kondisi badanku lagi jelek aja Mei. Bentar lagi juga sembuh.” katanya seolah menghiburku. Aku menghela napas. Lega.

Aku dan Keito berteman cukup lama. Kami sering bersama. Dia sudah lebih dari sahabat menurutku. Sampai-sampai kami membuat grup duo dimana aku yang bernyayi dan dia yang mengiringi lagu dengan gitar kesayangannya. Aku juga tahu sudah sejak lama badannya lemah, sering jatuh sakit. Tapi aku tak tahu apa sebabnya.

“Makanya jangan kecapekan. Kita kan juga harus latihan buat pentas nanti” kataku sambil meninju pelan lengan Keito.

“Hehehe…maaf Mei. Tapi, tanpa aku pun penampilanmu nanti tetep bagus kok”

“Huussh…jangan ngomong kayak gitu ah. Kita harus tampil bareng. Titik” ujarku pura-pura marah.

***

Hari itu untuk yang kesekian kalinya aku menjenguk Keito di rumah sakit. Tiap hari ketika aku datang, dia selalu tersenyum padaku. Seolah berkata dia baik-baik saja. Dia bersemangat sekali ketika aku datang menjenguknya. Aku senang sekaligus lega melihat dia sudah lebih baik dari sebelumnya. Pikiran burukku setelah mendengar hal yang dibilang perawat tadi sepertinya nggak akan terjadi.

“Temenin jalan-jalan, yuk!” pinta Keito malam itu. Aku hanya mengangguk.

Kami berdua duduk di bangku kecil disekitar taman rumah sakit. Malam itu, entah kenapa aku ingin berada di dekat Keito. Rasanya tak ingin beranjak dari sisinya.

“Bintangnya bagus ya, Kei” ucapku setelah agak lama terdiam.

“Un, kira-kira ne~” jawab Keito sambil menerawang ke langit. “Mei juga seperti bintang itu.”

“Haha…Kei jago nge-gombal juga yaa.”

Keito tidak membalas. Dia terdiam sejenak, menarik nafas panjang dan melanjutkan perkataannya.

“Mei…suatu saat nanti jadilah bintang yang paling terang diantara semua bintang, walaupun tanpa aku disisimu…”

Aku terdiam, tak berani memandang Keito. Mataku terasa panas. Aku tahu maksud Keito yang sebenarnya. “Kei…” ucapku sambil menahan air mata yang hampir keluar. Aku masih tak mampu memandangnya.

“Aku tahu kamu pasti bisa. Aku akan selalu mendukungmu..”

Keito terdiam lagi. Air mataku mengalir tanpa ada isak tangis yang terdengar. Aku memandang Keito yang kini matanya sudah terpejam seolah sedang tertidur lelap disampingku.

Aku tak tahan lagi, air mata ini tumpah ruah tanpa sanggup ku hentikan. Aku tahu kini Keito telah pergi, selamanya. Andai saja aku mengetahui kenyataan yang sebenarnya lebih cepat. Andai saja Keito nggak berbohong soal penyakitnya. Andai saja…..

Disela isak tangisku aku bersyukur akan kebohongan Keito. Aku menyukai kebohongan yang telah ia lakukan. Dia berkorban manahan sakitnya demi menghiburku setiap hari. Dia selalu tersenyum walau raganya menahan perih.

Aku memandang wajahnya yang terlihat bahagia, damai. Kupeluk raganya yang sudah tak bernyawa. Kubisikkan kata terakhirku untuknya…”Selamat jalan Kei~”

Ditulis oleh Aulia untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s