[Tema 14] Nebula

“Kacau.”

Cermin yang menggantung di depan Sasha seakan berkata kepadanya. Rambut yang acak-acakan serta bagian bawah matanya yang menghitam membuat ia merasa ngeri saat melihat sosok dirinya yang terpantul di cermin.

“Kau gagal…”

Sebuah suara berseru dalam pikirannya. Ya, ia memang gagal dalam mengikuti ujian masuk ke sebuah perguruan tinggi. Sasha masih ingat bagaimana ekspresinya saat membaca pengumuman yang dimuat hari ini di sebuah surat kabar. Namanya memang ada, tapi bukan pada jurusan yang diinginkannya. Yang bisa ia lakukan selanjutnya hanya mengurung diri dalam kamar, mematikan lampu dan menangis di sudut kamar sambil memeluk kedua lututnya. Menyedihkan memang, tapi begitulah kenyataannya.

Lagi-lagi Sasha bergidik saat melihat tampilan dirinya di cermin, lalu memutuskan untuk menjauh saja dari benda persegi itu. Ia lalu beranjak ke arah jendela, dan membiarkan angin malam memenuhi kamarnya yang gelap. Sebuah bintang yang redup menarik perhatiannya. Ahh… Dirinya seperti bintang itu, redup. Sementara yang lainnya bercahaya dan berhasil meraih apa yang mereka inginkan, ia malah terkurung dalam kamar ini, memikirkan masa depan yang sama redupnya dengan cahaya bintang yang dilihatnya sekarang.

“Apa yang harus kulakukan, bintang?” katanya bertanya-tanya. Ia mengacungkan telunjuk kanannya ke atas, menulis kata ‘future’ di udara lalu menatap langit dengan sendu.

“Sha… Mama masuk ya?” tiba-tiba terdengar suara dari balik pintu, diikuti dengan bunyi pintu yang dibuka secara perlahan. Dan tanpa disadarinya Mamanya sudah berdiri di sebelahnya lalu bergabung untuk menatap bintang di atas sana.

“Kau lihat bintang yang redup itu? Mungkin kau mengira kalau itu adalah bintang. Tapi sebenarnya bukan, itu adalah Nebula, awan yang bercahaya dan sering dikira sebagai bintang,” ujar Mamanya sambil menunjuk bintang redup –yang ternyata adalah Nebula- yang sedari tadi ditatap oleh Sasha.

Mamanya melanjutkan, “Nebula bisa terbentuk karena kematian sebuah bintang. Bintang baru yang tak cukup kuat untuk melewati tahap sebelum ia menjadi bintang yang sebenarnya akan hancur menjadi segumpalan kabut dan terbentuklah Nebula. Tapi lihatlah, walau bintang tersebut sudah mati, ia masih berusaha untuk memberikan sinarnya dengan menjadi Nebula. Walau cahayanya redup, yang penting ia sudah berusaha untuk mengerahkan sisa cahaya yang dimilikinya untuk menerangi malam…”

Sasha menatap Mamanya, kemudian mengerti arah pembicaraan ini. Dirinya saat ini mungkin seperti bintang baru yang gagal untuk menjadi bintang yang berkilau seperti bintang yang lain. Tapi ia tahu, ia masih bisa menjadi Nebula. Ia masih bisa berusaha lagi untuk memberi cahaya yang ia punya.

“Masih ada kesempatan lain,” kata Mamanya sambil mengelus puncak kepalanya dengan lembut, dan itu menenangkan hatinya. Ia akan berusaha lagi.

“Jangan menyerah… Kita pasti bisa meraih kejayaan yang bersinar itu…”*

Ya, ia tak akan menyerah. Ia akan mulai lagi. Dan suatu hari nanti ia yakin, ia tak akan hanya menjadi Nebula. Ia akan berubah menjadi bintang yang berkilau. Suatu hari…

Note : * : Penggalan lirik YUI – GLORIA

Ditulis oleh Stany Cecilia untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s