[Tema 16] Kenangan Terakhir

Seorang gadis cilik terbatuk-batuk pada bangsal rumah sakit. Aku langsung berlari menuju pintu yang menghubungkan koridor dengan kamarnya, lalu kemudian berjalan mendekatinya. Ku lihat kini wajahnya menjadi sepucat mayat, sangat putih. Ku seka peluh yang bercucuran di kening dan lehernya dengan menggunakan saputangan handuk milikku. Ia tersenyum lemah.

“Kakak… ibu mana?” Tanyanya.

Sejak dua hari ini ia selalu bertanya tentang ibu, padahal ibu kami telah meninggal pada sebuah kecelakaan mobil. Begitu pula dengan ayah. Ia menghindari sebuah container yang berkecepatan tinggi dari arah berlawanan. Tetapi naas, mobil yang dikendarai oleh ayahku menabrak pembatas jalan lalu meluncur bebas pada jurang yang jaraknya hampir lima ratus meter dari permukaan jalan.

“Rara kan tahu, kalau ibu sudah meninggal.” Kataku mengulangi setiap pertanyaannya dari kemarin lusa.

“Ibu ada, kak. Tadi dia berdiri disana.” Ia bersikeras sambil menunjuk pada sudut ruangan di kamar rumah sakit itu.

“Iya… iya. Ibu ada disana.” Kataku berbohong untuk meredakannya. “Kamu sekarang tidur lagi ya, istirahat. Biar demamnya turun.” Lanjutku lagi.

Ia mengangguk sambil meraih tangan kananku. Aku menempati sisa ruang pada kasur itu dan berbaring di sebelahnya. Selang infus berputar-putar melingkar pada sanggahan besi yang menghubungkan tabung infus dan jarum yang tertancap di nadi Rara. Aku mengusap pelan puncak kepala adikku. Dari kecil, tubuhnya memang sudah lemah. Perubahan cuaca sedikit saja bisa menyebabkan dia sakit.

“Cepat sembuh ya, dik.” Ucapku pelan sambil mengecup keningnya.

Aku menutup mata perlahan, mencoba untuk beristirahat. Ruangan dalam kamar itu terasa hening dan dingin. Aku merapatkan tubuhku pada Rara yang sedang demam tinggi itu untuk mencari kehangatan. Lambat laun aku pun tertidur lelap.

***

Aku merasakan kesadaranku lambat laun mulai terasa. Dengan kaget, aku langsung membuka kedua mataku sebagai reaksi karena seseorang tengah mengguncangkan tubuhku dengan kuat.

“Nak Risti, ayo bangun.” Desak suster yang selalu menjaga adikku dari hari pertama ia masuk rumah sakit ini.

“Ada apa, suster?” Tanyaku sambil menguap lebar.

Tatapanku terpaku pada Rara yang sedang astik bermain boneka di sudut ruangan. Selang infus sudah tidak lagi menusuk di tubuhnya. Seketika aku langsung merasa senang, ia pulih dari demamnya begitu cepat. Sampai-sampai langsung ingat bermain dan lupa untuk membangunkanku.

Aku kembali menatap suster itu. Wajahnya menekuk dalam dan ia pun menunjukkan mimik sedih. Beberapa bulir air mata menetes dari matanya yang berwarna coklat kehitaman. Ia mengambil saputangan katun dari saku baju kerjanya, lalu menyeka air mata yang kini menetes melewati pipinya yang gemuk. Mengapa ia menangis?

“Suster Rina, kok nangis? Ada apa?” Tanyaku lagi padanya.

Seolah tidak bisa membendung lagi air matanya, ia menangis sesegukan dan langsung memelukku erat.

“Kami semua… turut berduka cita ya.” Ucapnya sambil tergagap.

Aku bingung sendiri. Apa dia salah orang? Pikirku. Adikku sudah sembuh dan baik-baik saja. Bahkan ia kini sedang bermain dengan gembiranya tak jauh dari tempatnya berdiri.

“Siapa yang meninggal, Suster?”

“Aku diminta oleh Dokter Satria untuk membawamu ke kamar mayat.” Ucapnya kemudian.

Setengah bingung, aku mengiyakan ajakannya. Pada saat sampai di pintu, aku melayangkan pandanganku pada Rara. Baju putih rumah sakit yang pucat itu, kini telah diganti dengan baju berwarna pink kesukaannya. Pemberian dari ibu saat sehari sebelum kematiannya.

Tiba-tiba Rara menengok padaku. Ia tersenyum sangat manis dan melambai kuat-kuat ke arahku. Aku membalas lambaiannya singkat lalu mengikuti langkah Suster Rina di koridor itu.

Seekor burung hantu bertengger dengan kokohnya pada salah satu dahan pohon tak jauh dari tempatku berjalan. Bulan purnama keperakan terpantul dengan anggun pada air kolam menambah suasana kian mencekam. Entah mengapa, rumah sakit pada malam hari bukanlah pemandangan yang aku ingin lihat. Walaupun penghuninya tidak semua terlelap disana.

Tibalah aku dan Suster Rina di kamar mayat. Disana telah menunggu Dokter Satria dan seseorang yang tidak ku kenal. Ku taksir, ia adalah orang yang bertanggung jawab di kamar mayat itu.

Dokter Satria menghampiriku dan menggapai tangan kananku, lalu mengangkatnya perlahan. “Risti, kami semua sungguh sangat berduka cita.”

Kata-katanya sama dengan Suster Rina tadi. Tapi aku benar-benar bingung dengan orang-orang ini. Siapa yang meninggal? Apa hubungannya denganku?

“Siapa yang meninggal, Dok?” Tanyaku.

Ia membimbingku pada sesosok mayat yang dibaringkan pada sebuah meja alumunium dan diatasnya terbentang kain putih mulai dari ujung kaki sampai dengan ujung kepala. Kami kini berdiri dekat sekali dengan mayat tersebut. Dokter Satria lalu membuka kain penutup kepala pada mayat itu. Wajah mayat itu sangat pucat dan mulai membiru. Aku memusatkan mataku yang setengah mengantuk pada wajahnya. Ia begitu mirip dengan Rara.

Tiba-tiba mataku terbelalak lebar. Bagaimana dia bisa begitu mirip dengan Rara?!

“Maafkan kami. Kami tidak bisa menolong Rara, Risti. Ia meninggal pada pukul 00.15 saat kamu masih tertidur lelap. Padahal kami berusaha membangunkanmu saat itu, tapi kamu terus saja tertidur.” Ujar Dokter Satria.

Aku masih merasakan kebingungan. Berpikir mana yang nyata dan tidak nyata. Tiba-tiba tanah tempatku berpijak tidak stabil, sedetik kemudian aku tidak sadarkan diri.

***

Aku terbangun lagi di ruangan tempat Rara di rumah sakit. Menimbang-nimbang tentang mimpi yang ku lihat dan rasakan dalam tidurku. Di salah satu kursi tidak jauh denganku, duduklah Rara dan boneka Miku si kelinci di pelukannya. Ia sama seperti yang terakhir ku lihat. Mengenakan baju berwarna pink dengan bando senada dan sebuah sepatu berwarna putih.

“Halo kak Risti. Akhirnya bangun juga, dari tadi Rara nunggu kak Risti bangun nih.” Celotehnya riang.

“Iya. Maaf ya, kakak ketiduran.” Balasku cepat.

Ia memainkan renda di ujung roknya. “Kakak, Rara udah ketemu sama ibu. Katanya… Rara sekarang boleh ikut dengannya.”

“Rara, apaan sih! Ibu kan sudah meninggal. Harus berapa kali kakak bilang.” Hardikku.

Ia hanya menanggapi kemarahanku dengan senyum. ”Kata ibu juga. Rara sekarang sudah bisa menemaninya di surga. Jaga diri kakak baik-baik ya.” Ia melompat dari kursi itu dengan terampil. Lalu berjalan menjauhiku menuju sebuah sinar terang menyilaukan.

“Tunggu. Kumohon… tinggallah bersamaku! Jangan pergi, Rara!” Teriakku mengiba.

Cahaya itu pergi secepat datangnya. Meninggalkanku kembali dalam kegelapan sebuah ruangan di rumah sakit tempat Rara menginap. Tak terasa air mataku keluar dengan derasnya. Sejak tadi, ternyata Rara ingin berpamitan padaku.

Rara… ku mohon kembalilah. Jangan tinggalkan aku sendiri…

Tak terasa malam yang pekat kini berganti warna. Langit kemerahan tanda matahari terbit mulai terlihat. Aku terus menangis meratapi kepergian adikku, sekaligus keluargaku satu-satunya. Aku akan selalu merindukanmu, Rara…

Ditulis oleh Tammy Rahmasari untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapar dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s