[Tema 17] It’s Not A Goodbye

Sore itu aku berada dalam kereta api yang melaju kencang dari Ibukota menuju kota tempat orang tuaku tinggal. Perjalanan menuju kota tempat tinggal orang tuaku ini dapat ditempuh sekitar 3 jam dengan menggunakan salah satu kendaraan favoritku dalam berpergian ini. Tidak seperti sebelumnya, aku yang terbiasa menikmati suasana perjalanan darat seperti ini dengan santai, kala itu merasakan perjalanan terasa begitu lama dan membosankan. Aku yang berada hanya sendiri dikursi penumpang bernomer 17 ini, menyandarkan kepalaku sembari memandang bisu ke arah luar jendela.

Apa yang terlintas dalam benakku selalu sama. Pikiranku terusik dengan bayangan tentang seseorang. Seorang yang baru saja beberapa waktu lalu kutemui, namun harus berpisah lagi. Dia yang selalu mengisi hariku sejak pertama kami berkenalan, kini seakan mulai menjauh dari kehidupanku. Kenangan-kenangan indah disetiap kesempatan yang kami lalui bersama, menjadi kisah yang hanya menghiasi kehidupan kami sebelumnya. Entah apa yang membuat semua berubah. Dia yang dulu selalu ingin menceritakan pengalaman hidupnya sehari-hari kepadaku, kini seakan lebih membisu dari pada pepohonan yang kulihat jauh di ujung lain seberang jendela kereta.

Ada suatu hal yang tak pernah ku ketahui dari kamu.

Tak sempat kutanyakan, atau lebih tepatnya sesuatu yang tak berani kutanyakan?

Pikirku berulang-ulang.

Namun semakin mencoba untuk kupikirkan, semakin menjadi tak jelas semuanya. Karena jawaban dari semua ini tak akan kutemui kecuali berasal dari dirinya. Kini semua seakan sudah terlambat. Kata-kata perpisahan telah terucap. Dan aku tak tahu kapan lagi ada kesempatan untuk bertemu dengan dirinya. Kami memiliki kehidupan sendiri, kami memiliki cita-cita sendiri, hanya semangat dan doa yang bisa diberikan bagi masing-masing sebagai sebuah dukungan satu sama lain.

Bunyi mesin diesel berpadu dengan irama hembusan angin yang masuk melalui celah-celah jendela yang terbuka, mengiringi pandangan mataku yang kosong. Angin dari luar di saat udara panas di dalam kereta api ini, membuat suasana didalam gerbong ini terasa lebih sejuk selama perjalanan meninggalkan kota tempat dia berada. Saat ini yang bisa kulakukan hanyalah berdoa agar dirinya selalu mengingat kebersamaan yang selama ini telah kita jalin. Aku senang mengenal dirinya. Dari semua kekurangan yang ada pada diriku dan dirinya, kesenangan dan kepedihan yang telah kami lalui bersama, semoga semua ini tidak akan pernah berhenti hanya karena lelah mengejar waktu yang terus berputar.

Goodbye.

Kata ini tidak ingin aku ucapkan sampai kapanpun. Karena aku meyakinkan diriku bahwa perpisahan ini hanya untuk sementara. Percayalah kawan, bahwa kita akan dipertemukan dalam sebuah pandangan yang sama, disaat kita sedang melihat langit luas. Bukankah selama hidup ini kita akan selalu berada dibawah langit yang sama?

Dan kupejamkan mata sambil mencoba mengusir kebosananku, agar perjalanan ini cepat berlalu. Alunan lagu dari Jason Mraz feat Colbie Caillat ini adalah lagu favorit yang sering kita nyanyikan bersama dulu, saat ini kuputar untuk mengiringi semua jalan berliku yang akan kita tempuh di masa depan.

Ditulis oleh Feliks Tiantoro untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s