[Tema Spesial] A Room

“I’ll nurture this love and walk slowly

I want to be by your side”
Payung bercorak berwana biru cerah melindungi tubuh ku dari air hujan yang meluncur dari langit. Padahal beberapa menit yang lalu langit masih cerah. Tiba-tiba awan berubah hitam dan turun hujan.
Aku berjalan hati-hati. Tidak ingin ada cipratan dari genangan air menodai rok merah jambuku. Hanya karena ingin mencoba untuk menjadi sedikit feminin aku mengenakannya. Kau bilang, kau suka dengan cewek yang feminin. Well, aku memang tidak feminin. Aku jarang sekali memakai rok. Tapi untuk mu aku akan berusaha.
Aku jadi sedikit menyesal aku memakainya, kalau saja tadi aku memakai celana sekarang aku pasti tidak akan bersusah payah menghindari genangan air di sepanjang jalan ini. Aku juga tidak perlu mengangkat rok ku saat melangkah. Kau juga tidak akan melihat ku melihat diriku yang sedang mengenakannya. Tidak secara langsung. Karena sebelum berangkat tadi aku mengirimkan MMS berisikan fotoku yang mencoba menjadi feminin ini.

Splaaash!!
“Heeeii!!” pekikku kesal. Seseorang yang sedang berlari menginjakkan kakinya pada genangan air yang berada tepat di sampingku. Dan jelas saja, airnya mengenai permukaan rokku, membuat warna pinknya tertutupi dengan noda. Aku meneriaki orang itu, ingin memakinya. Tapi dia sudah berlalu. Sepertinya dia sedang mengenakan headset hingga dia sama sekali tidak mendengar teriakanku.

Sial!
Aku berjalan lagi menuju jalan utama, menjinjing tasku. Aku lelah menggantungkannya di pundakku. Ku alihkan kekesalan yang masih tertinggal akibat kejadian tadi dengan mebuyarkan pandangan ke kanan dan kiri. Memperhatikan sekitar. Aku tidak peduli lagi dengan rokku yang kotor.
Beberapa anak kecil yang baru pulang sekolah berlari-lari kecil mengenakan mantel warna-warni. Mereka menyanyikan lagu riang sambil saling menyipratkan air yang sempat tertampung di tangan mereka. Senangnya jadi anak kecil, tertawa lepas, tidak ada beban pikiran. Rasanya aku jadi ingin kembali menjadi anak-anak.
Di seberang jalan, terdapat seorang pria setengah berlari sambil menutupi kepala dan bagian atas tubuhnya dengan jaket kulit warna coklatnya. Terburu-buru. Mungkin dia sedang ada urusan genting sampai-sampai dia rela berlari di tengah hujan seperti ini.
Ku perhatikan pria yang masih berlari menuju halte, sekitar 5 meter di depannya. Apa dia akan naik bus? Aku melihat ke arah berlawanan, tidak ada satu pun bus yang nampak sejauh mata memandang. Dia sepertinya harus menunggu.
Aku mengalihkan pandangan ke arah halte. Ada seorang gadis di sana. Duduk, menunduk dan sendirian. Menunggu seseorang sepertinya. Gadis itu mengenakan rok−sama sepertiku. Tapi dia pasti adalah gadis yang benar-benar feminin. Dia berbalik ke arah pria yang berlari tadi. Wajahnya yang sendu tiba-tiba saja berbinar dan menyunggingkan senyum.
Ah, rupanya pria dan gadis itu sudah saling kenal. Si pria menyambar pipi gadis tadi dengan kecupan kilat. Sepasang kekasih rupanya. Kupikir ada urusan apa hingga pria itu terburu-buru ternyata ia hanya ingin menemui seorang gadis.
Melihat mereka. Pikiranku dengan spontan mengingatmu. Kapan kita akan seperti mereka? Janjian bertemu dan akhirnya melihat sosok masing-masing secara langsung? Dan… Apakah kau akan membuatku menunggu seperti gadis itu?
Aku menggeleng pelan, membuat pikiranku akan dirimu hilang sejenak. Ada rasa sesak saat mengingat aku tidak bisa melihat paras wajahmu dengan kedua bola mataku tanpa ada perantara media ataupun benda elektronik.
Aku memilih untuk tidak melanjutkan memperhatikan pasangan tadi. Ku edarkan pandangan jauh dari mereka. Sampai akhirnya mataku terpaku pada pasangan lain yang duduk berdua di bench* taman.
Oh, haruskah aku melihat ini? Pemandangan ini lebih menyesakkan dari pasangan tadi. Gadis dengan rambut sebahu terlihat bersandar−sepertinya tertidur di pundak prianya. Pria di sampingnya tidak bergeming dari posisinya dan dengan hati-hati meletakkan jaket di atas tubuh gadisnya.

Apa aku iri melihatnya? Tentu saja!
Lagi-lagi aku teringat padamu.
Apakah saat aku lelah dan butuh tempat untuk bersandar kau akan meminjamkan pundakmu? Apakah saat aku kedinginan kau akan memberiku kehangatan seperti yang pria itu lakukan?
Aku berhenti sejenak. Menatap langit.

Langit, dapatkah kau sampaikan rindu ini padanya?
***
“Assalamualaikum.” Kataku sambil membuka pintu. Tidak ada orang yang menyahut salamku karena memang tidak ada orang di rumah. Adik laki-lakiku masih ada di sekolah. Ayah dan ibu ku masih bekerja, biasanya mereka pulang selepas maghrib.
Aku langsung menuju ke kamarku. Ku gantungkan tas yang sedari tadi ku jinjing di belakang pintu. Entah berapa kilo beratnya hingga membuat tanganku sangat pegal. Setelah itu aku duduk di tepi kasur. Lelah. Aku menunduk, melihat rokku yang kotor. Kekesalanku bangkit lagi. Aku mencoba menghilangkannya dengan mengedarkan pandangan ku mengelilingi kamar dan menemukan layar telepon genggamku berkilau. Aku menghampirinya, ada namamu tertera di sana.

Makasih fotonya~ Kamu cantik 😀
Sebuah pesan singkat darimu membuatku tersenyum. Seketika rasa lelah dan kesalku menguap begitu saja. Kemudian dengan cekatan ku pencet tombol-tombol ponselku, membalas pesanmu.

Makasih sayang~ 😀
***

“I want you to accept even the mundane event
You’re the only one for me”
Aku menatap layar monitor di hadapanku. Sudah hampir 5 jam aku berkutat dengan komputer jinjingku. Ku ayunkan tangan untuk membuat katupnya setengah tertutup. Mataku sudah tidak sanggup untuk menatap layarnya lebih lama. Kepala ku juga sudah pusing. Ku coba memijat pangkal hidungku untuk menghilangkan sedikit rasa sakit di mata dan juga di kepalaku. Lumayan berhasil.
Aku mengambil ponsel yang beberapa jam lalu sempat bergetar. Aku terlalu sibuk untuk sekedar melihat siapa yang mengirim pesan. Ku tatap layarnya. Sania−namamu tertulis di sana. Ku tekan tombol open. Terlihat foto dirimu mengenakan kemeja putih dan rok merah jambu. Sedang tersenyum manis.
Kali ini dirimu nampak berbeda. Di foto-foto sebelumnya kau hanya mengenakan kaos oblong dan celana jeans. Kali ini kamu terlihat feminin. Aku ingat pernah mengatakan bahwa aku suka melihat gadis yang feminin. Tapi aku tidak menyangka, kau berusaha terlihat feminin untukku.
Cepat-cepat ku tekan tombol untuk membalasnya.

Makasih fotonya~ Kamu cantik 😀
Tidak perlu menunggu lama. Kurang semenit, pesan balasanmu tiba.

Makasih sayang~ 😀
Aku tersenyum membacanya. Kita memang sudah menjalani hubungan sebagai sepasang kekasih sejak lama. Tapi panggilan sayang itu tidak terasa seperti panggilan biasa. Selalu ada rasa manis yang membekas saat  aku menerimanya darimu. Aku jadi ingat saat pertama kali kita jadian. Kau bahkan hanya memanggilku dengan sebutan kakak.
Ingatanku kemudian berputar dan kembali ke masa-masa sebelum kita jadian. Tidak ada angin tidak ada hujan aku jatuh hati padamu. Mungkin benar kata orang, kau tidak akan tahu kapan benih-benih cinta tumbuh di bilik hatimu.
Mungkin terdengar gila kalau orang-orang mengetahui aku menyukai pada orang yang sama sekali belum pernah kutemui. Hanya dengan melihat senyum di foto jejaring sosialmu aku langsung saja menyukaimu. Tapi bukankah cinta itu memang gila?
Lewat jejaring sosial-lah kita bertemu. Aku selalu berusaha mendekati mu. Tidak terlalu sulit karena kau ramah. Kita juga memiliki banyak kesamaan jadi obrolan kita selalu bisa tersambung. Rasanya benar-benar senang saat kau membalas wall atau mengomentari status di jejaring sosialku.
Setelah beberapa bulan, kita semakin dekat. Aku sudah berhasil mendapat nomor ponselmu dan hampir setiap hari kita sms-an. Apa kau tahu? Aku selalu berdebar menunggu balasan darimu. Kadang, kau mengejutkan hariku dengan sms konyolmu. Yang berisi ‘tok-tok’ saja. Tiba-tiba aku jadi merindukan smsmu yang seperti itu.
“Far, bengong aja. Pulang yuk!” kata seseorang memecah keheningkan yang kubuat. Sudah hampir maghrib, memang sudah waktunya aku pulang.
Aku berjalan keluar. Menatap langit yang mulai berubah warna. Matahari mulai tenggelam dan sebentar lagi akan digantikan oleh bulan. Di tempatmu, pasti masih sore ya? Selain berbeda pulau, kita juga berbeda waktu. Waktu di sini lebih cepat sejam dari tempatmu.
“Far, aku duluan ya!” kata salah satu rekan kerjaku kemudian berlalu. Kulihat dia menyalakan mesin motornya. Sebelum melaju, seorang gadis yang juga rekan kerjaku duduk di sadel belakang motornya.
Gadis itu mengingatkanku lagi padamu. Kapan aku bisa bertemu denganmu? Kapan aku bisa memboncangmu seperti itu? Aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang aku sendiri tidak bisa menjawabnya.
Setidaknya untuk saat ini aku masih belum bisa melakukannya. Maaf. Aku masih belum merasa pantas untuk melanjutkan hubungan kita ke tahap yang lebih jauh. Aku bahkan belum bisa membayangkan kalimat apa yang harus ku katakan pada ayahmu yang sama sekali belum tahu tentang hubungan kita yang sudah hampir setahun ini.
Aku menatap langit sekali lagi.

Langit, dapatkah kau sampaikan maaf ini padanya?
***
“I’ll confirm our love
And talk about the future again”
Aku mengacak-acak rambutku dengan handuk sambil keluar dari kamar mandi. Kemudian bergegas membuka lemari. Mencari sesuatu yang hangat untuk menutupi tubuhku. Di luar masih hujan, udara terasa semakin dingin karena butiran air masih membasahi tubuhku. Di tumpukan baju, aku mendapati secarik kain berwarna merah. Ku tarik kain itu dari tumpukannya. Ah, ini baju yang kau berikan padaku beberapa bulan lalu.
Saat itu aku baru saja tiba di rumah. Langsung memasuki kamar seperti biasanya kemudian menemukan sebuah paket yang ditujukan pada ku. Aku membalik bungkusan paket itu dan menemukan namamu sebagai pengirimnya.
Aku sangat senang menerimanya. Aku tidak menyangka kau akan repot-repot mengirimkan paket sebagai hadiah ulang tahunku. Dengan segera aku mengucapkan terima kasih melalui pesan singkat.
Kau selalu saja memberi kejutan pada ku. Walau itu hanya hal kecil, aku menyukainya.
Kejutan pertama yang kau beri adalah kata-kata bahwa kau menyukaiku dan menginginkan aku untuk menjadi gadismu. Tapi kalau mau jujur, aku tidak begitu terkejut. Aku sudah punya firasattentang itu. Aku hanya tidak tahu kapan kau akan mengatakannya.
Aku memutuskan untuk memakai kaos merah pemberianmu. Kaos ini terasa hangat di cuaca seperti ini. Hangat seperti dirimu.
Setelah berpakaian, aku iseng mengirimi mu MMS lagi dan menyematkan fotoku bersamanya. Tidak lama. Pesan balasanmu datang.


Aku juga lagi pake baju merah. Dih, kamu ikut-ikutan! 😛
Aku membalasnya dengan satu kata saja. Biarin!
Saling kirim-mengirim pesan singkat pun terjadi. Aku sudah terbiasa melakukan kegiatan ini denganmu. Kaupun pasti sudah terbiasa. Di sela-selanya aku kadang tertawa karena leluconmu.
Tapi jauh di dalam hatiku sebenarnya aku tidak ingin seperti ini terus. Aku ingin bertemu denganmu. Dengan refleks ku ketikkan satu kalimat. Kemudian menekan tombol send.


Aku pengen ketemu…
Kali ini balasanmu tidak secepat biasanya. Mungkin kau bingung harus membalas apa. Kita sudah sering membahas ini. Membahas kapan kita akan bertemu. Tapi tak satupun diantara kita yang bisa menjawabnya. Aku tahu kau belum siap. Akupun sama. Aku masih belum siap jika harus memperkenalkanmu pada ayahku.
Ayahku tidak memperbolehkanku berhubungan dengan lelaki manapun. Bahkan dengan hanya menerima telepon dari seorang teman lelaki, aku harus rela diinterogasi dan harus menjawab segala macam pertanyaan yang kadang tak bisa ku jawab.
Lamunanku buyar karena getaran ponsel. Balasanmu datang.
Aku juga sayang. Tapi kamu yang sabar ya…
Suatu hari nanti aku akan menemuimu. Pasti.

Aku menghela napas panjang. Kau pasti merasakan hal yang sama denganku. Rasa ingin bertemu itu. rasa rindu yang menyesakkan dada. Aku tahu kau merasakannya juga.
***
Aku melihat seorang lelaki dengan wajah sendu menatap layar ponselnya. Aku tahu betul apa yang ia pikirkan. Aku sangat tahu apa yang membuat hatinya gundah. Benar, seorang gadis yang berada di seberang lautan pulaunya-lah yang membuatnya seperti itu.
Gadisnya pun mengalami hal yang sama. Berbaring di kasur menatap langit-langit kamarnya. Terlihat seperti memikirkan sesuatu. Tapi aku tahu pikirannya tidak di kamar itu. aku tahu pikirannya melayang ke mana-mana.
Akupun dapat melihat ke dalam hati mereka. Yang mana di dalamnya terdapat ruang telah terisi dengan kasih sayang dan cinta yang saling terbalaskan.
Aku dengan mudah dapat menemukan pasangan ini hanya dengan melihat untaian benang merah yang terlihat mengikat jari kelingking mereka. Dari cermin langit ini aku dapat melihat berjuta-juta untaian benang merah yang mengikat pasangan-pasangan yang telah mengikat janji.
Benang merah yang mengikat perasaan mereka. Mengikat hati mereka.
Tahukah kamu manusia? Sekali dia mengikat, benang merah itu tidak akan pernah putus.
Kalaupun putus, itu karena kalian sendirilah yang menginginkannya. Kalianlah yang menentukannya.
Each piece of heart has a room. An empty room. Room where love will grow up. Room where someone will live on.
Ditulis oleh Febriyani Syafri untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini
Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s