[Tema Spesial] You

Aku mengarahkan pandanganku pada kerumunan anak laki-laki yang sedang bercanda di seberang kantin. Tak semua kuperhatikan, hanya satu saja. Tak terlihat begitu tampan, berkulit bersih. Haris, tetanggaku yang juga temanku itu sedang tertawa riang dengan teman-temannya. Sesekali tawa mereka meledak, terdengar ke seluruh penjuru kantin.

Seolah merasa diperhatikan, Haris kemudian menoleh kepadaku. Ia memasang pose sok ganteng dengan memasang ibu jari dan jari telunjuknya di dagunya. Ia menambah pose tambahan, mengangkat-angkat alisnya seakan-akan pria yang sedang menggoda wanita. Aku memicingkan mataku, menepuk keningku dan menunduk. Aku tak ingin orang-orang di sekitarku tahu kalau Haris sedang menunujukkan hal bodoh kepadaku. Segera saja aku meninggalkan meja dan membayar siomay dan es teh yang telah habis kumakan.
******
Tet! Tet! Teeeeeeeeeeet!
Bel tanda berakhirnya sekolah berdering keras. Aku segera saja melangkah keluar kelas, tanpa peduli dengan orang-orang di sekitarku. Aku tak mau bertemu dengan Haris sekarang, apalagi pulang bersama dengannya, setelah insiden konyol di kantin itu. Pasti ia akan membahas kenapa aku memandanginya tadi. Kemudian ia akan menggodaku habis-habisan tiada ampun. Baru akan berhenti jika aku sudah sampai rumah. Namun akan mulai lagi jika dia bertemu denganku lagi dan mengingat kembali secara detail kejadiannya.
Namun sebagian kecil dari hatiku berkata kalau aku ingin pulang bersamanya. Rasanya kurang kalau sehari tak bersama. Sudah kebiasaan sehari-hari. Canda dan gurauannya selalu mengisi hari-hariku. Yah, terkadang memang menyebalkan, aku dijadikan bahan untuk digodanya habis-habisan. Dan itulah yang aku jadikan alasan untuk menghindar, tidak pulang bersamanya hari ini.
“Tyaz!” terdengar seorang laki-laki memanggilku dari belakang. Aku mengerutkan dahiku. Tanpa menoleh saja aku sudah tahu itu suara siapa. Yah, Haris. Kulangkahkan kakiku kembali, berpura-pura tak mendengar panggilan itu.
“Tyaz, tunggu!” ia menaikkan volume suaranya. Aku ingin berlari, namun Haris sudah menggapai pergelangan tanganku. “Heh, dipanggilin juga,” protes Haris.
“Oh, kamu manggil aku?” aku berpura-pura.
“Ya iyalah. Emang sih, nama Tyaz itu dimana-mana ada. Tapi kalau yang manggil aku kan berarti Tyaz itu kamu,” dia mulai meledek.
”Emangnya aku tahu kalau yang manggil itu kamu?”
“Ya kalau nggak tahu ya harusnya noleh dong, dilihat dulu yang manggil siapa.”
“Kan nggak denger,” ngelesku, sambil berjalan mencoba menjauhi Haris. Namun tetap saja ia bisa mengimbangiku. Aku tak bisa kabur.
“Masa sih? Denger ah,” ia mulai menggoda lagi.
“Nggak.”
“Denger.”
“Nggak.”
“Ya sudah, nggak,” ia akhirnya mengalah. “Tapi, ada apa ya di kantin tadi? Kok kamu ngeliat aku terus?” selidik Haris.
Nah! Dia sampai pada bahasan itu. Aku tetap berjalan, tak menjawab pertanyaannya. Aku tak ingin ia menggodaku lagi. Aku tak ingin ia tahu lebih jauh lagi tentang ini, tentang perasaanku yang sesungguhnya padanya.
Haris masih menunggu aku menjawab pertanyaanya. Ia kemudian menyikutku. “Hei, jawab.”
“Apa?”
“Ya pertanyaanku tadi.”
Aku masih terdiam.
“Sepertinya aku tahu jawabannya.”
Aku menoleh padanya. “Apa?”
“Kamu ngefans sama aku kan?” tanyanya dengan penuh percaya diri.
“Ih, pede banget,” aku menyeringai.
“Kalau nggak ya, berarti kamu suka sama aku,” katanya dengan penuh ketenangan.
Deg! He got me! Kata-kata Haris benar-benar mengena sekali. Rasanya seperti tertangkap basah melakukan hal yang bodoh. Layaknya rahasia yang sudah tertutup sangat rapat di bawah permukaan dimunculkan begitu saja olehnya.
Aku menata ekspresi mukaku agar tak terlihat gugup di depannya. Aku berusaha untuk tak menampakkan ekspresi ‘iya’ pada Haris. Aku membuat ekspresi terkejut. Bukan terkejut karena ia tahu sesuatu, melainkan terkejut karena ia mengatakan hal yang terlihat konyol. Kubuat ekspresiku sewajar mungkin agar Haris tak curiga lebih lanjut.
“Hah? Yang benar saja!” aku bersandiwara. Kuhentikan langkah kakiku, menatapnya. “Apa yang membuatmu menyimpulkan seperti itu?”
“Karena kau memperhatikanku, jadi bisa saja kau suka padaku.”
“Cuma karena itu? Bisa saja karena kau ini yang paling aneh diantar teman-temanmu. Jadi aku memperhatikanmu,” aku beralasan.
“Nah, itu! Karena aku aneh, dan aneh itu unik. Jadinya kau suka padaku.”
Aku menyeringai.
“Iya, kan?” Haris menggodaku lagi. Menyikutku lagi.
Aku tak ingin beralasan lagi dengan Haris. Setiap aku berdebat dengannya, pasti aku yang kalah. Dia memang pandai memainkan kata-kata, atau lebih tepatnya jago ngeles.
Dan keberuntungan datang padaku. Aku sudah samapi di depan rumah! Selamat! Sorakku dalam hati. Setelah tadi rasanya seperti dijatuhkan dari lantai 13, sekarang rasanya seperti terbang ke langit, ditemani beberapa ekor burung yang terlihat ceria.
“Aku udah sampai rumah, besok lagi ya,” ledekku pada Haris.
“Awas ya, besok,” Haris balik mengejek.
Aku tak menggubris kata-katanya.
Assalamualaikum,” kataku di depan pintu. Tak kudengar ada yang menjawab. Mungkin ibu sedang sibuk di dapur. Langsung saja aku masuk ke rumah. Aku menaiki tangga, menuju kamarku yang berada di lantai dua. Di depan kamarku, kucopot sepatuku dan meletakkannya pada rak sepatu. Aku membuka pintu kamar dan segera saja merebahkan tubuhku di atas empuknya kasur kamar tidurku.
Itu tadi hampir saja, gumamku dalam hati. Bagaimana bisa Haris tiba-tiba saja ‘nyeletuk’ seperti itu? Darimana dia tahu? Memangnya aku terlihat sekali kalau menyukainya? Bagaimana dia tahu kalau aku menyukainya? Pikiranku dipenuhi dengan tanda tanya.
Tapi apakah dia benar-benar tahu tentang perasaanku? Atau dia memang hanya sok tahu? Agar dia punya bahan untuk menggodaku setiap hari? Ah, dia terlihat seperti orang yang licik, jika itu memang benar adanya.
Memikirkan Haris, sepertinya dia sedang tertawa, menertawakan kejadian tadi. Pasti dia sedang senang. Begitulah Haris. Hobinya menggodaku, siang malam jika ada kesempatan. Namun entah mengapa aku malah jatuh hati padanya. Semakin aku mencari-cari alasannya, semakin sulit aku menemukannya. Mungkin itulah yang dinamakan cinta. Di dalam hatiku hanya ada Haris.
Haris itu tetanggaku. Jadi, godaan-godaan yang ia lancarkan terhadapku bagaikan makanan sehari-hari bagiku. Tak sedikitpun aku menaruh dendam padanya. Yah, mungkin karena faktor hati. Namun tak selamanya aku oke-oke saja jika bercandanya kelewatan. Pernah aku marah padanya karena ia menggodaku habis-habisan dan aku masih dalam super bad mood. Alhasil, dia minta maaf kepadaku.
Kurasakan ponselku yang kuletakkan di atas kasur bergetar. Kuambil ponsel tersebut. Ada pesan rupanya. Aku buka pesan itu, ternyata dari Haris.
Hei :p
Tanpa pikir panjang, kubalas pesan tersebut.
Apa? :p
Tak ada satu menit Haris membalasnya.
Pasti lagi seneng :p
Aku mengerutkan dahi. Apa maksudnya?
Emang knp? 😮
Kutinggalkan ponselku, kemudian berjalan ke jendela kamarku. Kubuka jendela, membiarkan udara luar masuk ke dalam kamarku. Aku kembali ke tempat tidurku, memungut ponselku. Sudah ada pesan dari Haris disana.
Soalnya dpt sms dari orang yg disuka B)
Ini lagi. Hari sabtu ini belum berakhir, jadi Haris masih membahasnya. Sekitar lima menit aku berpikir, aku akan membalasnya apa. Kemudian kau mengetikkan sesuatu.
Hm -_-
Terkirim. Pasti Haris sedang tertawa sekarang, pikirku. Agak lama Haris membalas pesanku. Sekitar lima menit ponselku bergetar lagi.
Wkwkwkwk
Btw, ntar mau kuliah dmn?
Yah, aku dan Haris sebentar lagi masuk ke bangku perkuliahan. Entah universitas mana yang akan Haris tuju, aku tak tahu. Aku sendiri ingin mengambil jurusan sastra Inggris di universitas di kotaku, tak perlu jauh-jauh. Aku berharap Haris mempunyai tujuan yang sama denganku. Aku tak berharap satu jurusan, satu universitas juga tak apa.
Aku balas pesan dari Haris.
Nggak mau jawab via sms ah xp
Terkirim. Namun Haris tak kunjung membalasnya. Sekitar tiga puluh menit, tetap saja tak ada balasan. Aku hampir saja tertidur ketika ibuku dengan suara yang lantang memanggilku dari bawah.
“Tyaaaaaaaaaaaaaz,” suara ibuku memenuhi kamarku.
“Iya, Bu,” jawabku malas-malasan, namun dengan suara yang lantang juga, mengimbangi ibuku. Aku segera turun ke bawah, memenuhi panggilan ibu. Di bawah tangga ternyata ibu sudah menungguku.
“Ada temanmu tuh, di luar,” ibu memberi informasi.
“Siapa?” tanyaku kebingungan. Aku tak pernah buat janji dengan temanku hari ini.
“Tetangga.”
Hah? Tetangga yang sekaligus teman? Apa Haris? Mau apa dia? Otakku dipenuhi dengan pertanyaan.
Aku segera keluar rumah, menemui orang yang ingin menemuiku. Aku membuka pintu depan, dan benar saja. Itu Haris! Ia membawa serta sepeda fixie biru miliknya.
“Haris, ngapain?” tanyaku padanya. Ia kemudian menoleh padaku.
“Eh, Tyaz. Ayo bersepeda. Sore-sore gini enak lho, bersepeda,” ajaknya dengan wajah berseri-seri.
“Tunggu ya,” jawabku langsung.
Aku langsung saja mengiyakan tawaran Haris karena aku sudah tahu begitulah Haris. Tiba-tiba mengajak sesuatu tanpa ada hujan atau angin yang melanda sebelumnya. Sreta tanpa menjelaskan untuk apa ia mengajak atau mengusulkan sesuatu unguk dikerjakan. Karena biasanya aku akan mengerti jawabannya setelahnya. Tak langsung setelah ia mengajak, tapi bisa saja seminggu setelahnya. Aku mungkin cuma butuh kesabaran.
Aku masuk kembali ke dalam rumah, naik ke kamarku untuk sholat ashar terlebih dulu, kemudian berganti baju. Setelahnya kau kembali turun, menuju garasi rumahku. Aku membuka pintu garasi, kemudian mengambil sepeda fixie merah muda milikku. Kukeluarkan sepeda tiu, kuparkirkan di dekat Haris. Aku menutup pintu garasi dan kemudian berpamitan dengan ibu.
“Bu, aku mau jalan-jalan sama Haris dulu ya,” pamitku.
“Ya, hati-hati. Pulang sebelum maghrib ya,” pesan ibuku.
“Ya,” jawabku.
Aku keluar rumah dengan menuntun sepeda fixieku, diikuti Haris. Aku terdiam sejenak, menunggu aba-aba dari Haris. Haris tahu maksudku, kemudian ia langsung saja mengayuh sepedanya. Aku mengikutinya, kemudian aku menyusulnya agar kita mengayuh sepeda bersejajar.
“Kita mau kemana, Ris?” tanyaku pada Haris.
“Hm, kemana ya? Kamu pengennya kemana?” Haris malah balik Tanya.
“Loh, kok malah balik Tanya? Kan kamu yang ngajak aku.”
“Kita ke pantai aja gimana?” usul Haris kemudian.
“Boleh,” jawabku.
Tempat tinggal kami memang tak terlalu jauh dari pantai. Jaraknya kira-kira delapan kilometer. Yah, cukup untuk membuat tubuh berkeringat. Jalanan menuju pantai juga bagus dan nyaman. Apalagi sekarang sudah sore, cuaca tak terlalu panas. Suasananyapun terasa nyaman.
Sekitar lima belas menit mengayuh sepeda, aku dan Haris akhirnya tiba di pantai. Gemuruh ombak,  semilir angin, dan lembutnya pasir seakan menyambut kedatanganku dan Haris. Ah, aku merindukan suasana ini. Sudah empat bulan lebih aku tak berkunjung ke pantai karena kesibukanku yang harus terus belajar, mengingat aku sudah kelas tiga SMA. Dulu, aku sering sekali main ke pantai ini. Sendiri, atau bersama keluarga, terkadang juga bersama Haris. Tempat ini begitu menyenangkan.
“Hei, kesana yuk,” suara Haris memecah lamunanku tentang pantai ini. Aku menoleh padanya.
“Kemana?” tanyaku.
Haris kemudian menunjuk sebuah tempat. Aku mengalihkan pandanganku ke tempat yang ditunjuk Haris. Itu adalah tempat dimana sebuah pohon yang tak terlalu besar namun akarnya bisa digunakan untuk duduk-duduk disana.
“Terus, sepedanya?” tanyaku.
“Ya diparkirin dulu dong, Panda,” Haris mulai menggoda. Haris memang terkadang memanggilku dengan sebutan Panda. Alasannya adalah badanku yang mirip seperti Panda.
Aku mengikuti Haris berjalan menuju tempat parkir sepeda. Setelah kami memarkirkan sepeda kami masing-masing, Haris berjalan menuju tempat yang ia tunjuk tadi. Aku mengikutinya di belakang.
Sampai pada pohon tersebut, Haris langsung duduk pada akar pohon tersebut. Aku kembali mengikutinya. Kami duduk bersebelahan, memandang laut.
“Kenapa kau tiba-tiba mengajakku kemari?” tanyaku penasaran.
“Kamu nanti kuliah mau ambil jurusan apa?” Haris malah bertanya.
“Jadi kamu ngajak aku kemari mau tanya soal itu?” selidikku.
“Nggak sih, pengen jalan-jalan aja. Itu tadi kan pertanyaan biar ada sesuatu yang dibahas,” Haris beralasan. Ia kembali kestylenya.
“Haris!” aku mengerutkan dahi.
“Apa? Dijawab dong pertanyaanku.”
“Aku pengen ambil sastra Inggris, kamu?” jawabku sekaligus bertanya.
“Aku mau ambil seni rupa,” jawab Haris. “Di universitas mana?”
“Disini aja, biar nggak usah ke luar kota,” jawabku. “Kamu?”
Aku menoleh pada Haris, namun ia diam saja. Ia terlihat seperti sedang berpikir. Entah sedang memikirkan apa. Padahal aku hanya bertanya dimana ia akan memilih universitas. Namun pertanyaan itu sepertinya terlihat sulit baginya. Tercermin dalam ekspresi mukanya yang sangat serius berpikir.
Aku masih memandangnya lekat-lekat. Aku berharap jawaban yang sama terlontar dari mulutnya. Jawaban bahwa universitas yang akan kita tuju adalah sama. Aku ingin terus bersamanya. Sejak ia pindah ke tempat ini, menjadi tetanggaku, menjadi teman sekolahku, samapai pada kahirnya menjadi penghuni ruang di hatiku.
Dan ia yang menghuni sebuah ruang di hatiku, telah membuatku menumbuhkan benih-benih cinta dalam hatiku. Setiap harinya ia seperti menyirami benih-benih yang ia sebarkan dalam hatiku. Ia berusaha untuk membuat lebih besar, dan lebih besar. Dan yang ada di dalam hatiku itu Haris.
“Hm,” Haris bersuara.
Aku terbangun dari lamunanku.
“Ya sudah, aku mau ke universitas di kota ini saja,” katanya menoleh padaku dengan wajah berseri-seri khasnya.
“Heh?” aku malah bingung.
“Iya, supaya aku bisa terus menggodamu terus, Panda,” ia menggoda lagi. Alih-alih cemberut, aku malah sumringah. Aku menemukan bahan untuk menggodanya.
“Masa sih, Cuma mau menggoda? Bilang saja kalau pengennya bareng aku terus,” kini giliran kau menggodanya.
Haris terdiam sesaat sambil memandang laut biru dihadapan kami. Tak lama, ia kemudian menoleh lagi kepadaku.
“Iya, aku pengen bareng kamu terus,” katanya mantap, pasti.
Deg! Seketika saja aku terkejut. Haris tiba-tiba saja mengatakan hal tersebut. Apa dia sedang menggodaku lagi? Namun tak terlihat sinyal-sinyal kalau ia sedang menggodaku. Gurat-gurat wajahnya menunjukkan keseriusan.
Haris kemudian tersenyum. Apa yang ia barusan lakukan semakin menambah gugupnya aku. Mungkin sekarang wajahku memerah. Segera saja aku palingkan wajahku dari pandangannya agar wajahku tak terdeteksi berubah warna.
Rasanya aneh Haris mengatakan hal tersebut. Namun perasaanku senang. Semoga itu benar adanya, karena aku ingin menjalani waktu dengan berada disisinya. Yah, selalu bersamamu, aku menginginkannya. Karena di dalam diriku hanya ada Haris.
Aku mengambil music player dari saku celana jeansku. Kemudian memberikan satu sisi earphoneku pada Haris. Ia menerimanya, kemudian meletakkannya di telinga kirinya. Aku melakukan hal yang sama, namun kuletakkan di telinga kananku. Aku menekan-nekan tombol pada music playerku, memainkan sebuah lagu. YUI, a room. Yah, mungkin itu adalah penggambaran lagu yang tepat tentang apa yang aku rasakan saat ini.
Ditulis oleh Rizki Arum Prastuti untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini
Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s