#FFDadakan – Mimpi Ann

Siang itu aku dan Ann pergi ke perpustakaan kota. Meskipun sekarang sedang libur musim panas, tapi kami masih harus mengerjakan tugas dari sekolah. Tapi bukannya mengerjakan tugas, yang ku lakukan hanya melihat-lihat buku. Menelusuri rak-rak buku, mengambil sebuah buku yang kelihatannya menarik, membolak-balik halamannya, dan kemudian mengembalikannya lagi ke rak. Dan itu ku lakukan berkali-kali sampai sekitar 20 buku.

Berbeda dengan ku, Ann justru mengerjakan tugasnya dengan tenang di sebuah meja besar di tengah ruangan. Beberapa buku bertumpuk di atas meja, di sebelah kanan lembar kerjanya, dan satu buku dengan keadaan terbuka berada di sisi satunya. Sesekali dia terlihat membuka-buka buku lain, berusaha mencari kalimat yang tepat untuk tugasnya. Entah sudah berapa kata yang ditulisnya.

Tak terasa hari sudah sore, dan aku sudah mulai bosan. Sedangkan Ann, masih saja menulis. Aku harus mengajaknya pulang. Jika tidak, dia tidak akan berhenti sebelum tugasnya selesai, atau perpustakaannya tutup. Aku pun menghampiri Ann, dan duduk di sebelahnya.

“Masih belum selesai?”

Bukannya menjawab, Ann justru berpura-pura tidak mendengar.

“Sekarang sudah sore! Masih ada hari esok kan?” kata ku lagi.

Ann menutup bukunya, dan berhenti menulis.

“Oke…” katanya singkat.

Pulangnya kami berjalan beriringan. Aku berjalan di depan, dan Ann mengikuti di belakang. Kami sudah biasa jalan kaki bersama, lagipula letak perpustakaan tidak jauh dengan tempat tinggal kami.

“Bagaimana tugas mu? Sudah selesai?”

Tiba-tiba Ann bertanya padaku.

“Belum…”

“Ya ya… Masih ada hari esok.” kata Ann, seakan-akan dia tahu apa yang akan ku katakan.

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang dalam diam. Dan akhirnya kami tiba di taman kota. Taman yang selalu dikunjungi oleh orang-orang. Mulai dari anak kecil hingga orang dewasa. Melakukan berbagai kegiatan, mulai dari jalan-jalan, lari, bersepeda, atau hanya sekedar menghirup udara segar. Dikelilingi pepohonan yang rindang, dan ada air mancur di tengah taman. Ini memang tempat yang baik untuk melepas lelah setelah seharian beraktifitas.

“Lihat!” kata Ann, sambil menunjuk ke salah satu sudut taman.

Di sana terlihat tiga orang musisi jalanan. Dua orang pria yang sedang bermain gitar, dan satu orang wanita yang sedang bernyanyi. Dan di sekelilingnya banyak orang-orang yang sedang menonton mereka beraksi. Sebagian besar dari penonton terlihat sangat menikmati pertunjukan musisi jalanan tersebut. Sebagian lagi hanya memandang mereka dengan wajah keheranan.

“Ayo kita kesana!” tiba-tiba saja Ann menarik tangan ku. Dan kami pun melihat pertunjukan musik jalanan itu dari dekat.

Ini pertama kalinya aku dan Ann menonton pertunjukan musik jalanan. Setelah menonton dari dekat, ternyata musik yang mereka mainkan cukup bagus. Kombinasi antara suara gitar dan suara si penyanyi benar-benar pas. Aku yang tadinya malas nonton pun sekarang mulai menikmati penampilan mereka. Begitu juga dengan Ann. Dia bahkan sempat memejamkan mata beberapa saat, seakan-akan merasakan ketenangan dari lagu-lagu yang dimainkan oleh musisi jalanan tersebut.

Tidak lama kemudian pertunjukan mereka pun berakhir. Hampir semua penonton bertepuk tangan, termasuk aku dan Ann.

“Ayo kita pulang!” kata Ann sambil tersenyum.

Kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Dalam perjalanan, Ann masih saja terpesona dengan penampilan musisi jalanan tadi, dan tidak henti-hentinya memuji mereka.

“Suatu saat nanti, aku juga ingin jadi seperti mereka.” kata Ann.

“Memangnya kau bisa main musik?”

“Sekarang sih belum bisa… Tapi kalau belajar dari sekarang, pasti bisa.” jawabnya.

“Oh iya, nanti kau harus jadi penonton pertama ku ya!” katanya lagi.

“Tidak mau…” jawab ku.

“Oh… Oke… Kalau begitu, mulai sekarang, kerjakan sendiri tugas-tugas sekolah mu. Aku tidak mau bantu lagi!” kata Ann sambil tersenyum.

“Eh? Tunggu… Oke… Aku akan jadi penonton yang pertama.” akhirnya aku menyerah juga.

“Yosh! Mulai sekarang, aku akan belajar main musik!” kata Ann bersemangat.

Kemudian kami berpisah di sebuah persimpangan, dan menuju rumah masing-masing. Sebelum berpisah, Ann sempat berteriak “Jangan lupa janji mu!”. Aku hanya melambaikan tangan sebagai jawaban.

Ann… Tanpa kau suruh pun aku pasti akan menonton mu. Aku akan selalu mendukung mu.

 

Ditulis oleh Riky Sukma Wijaya untuk #FFDadakan #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s