Tomorrow’s Way – Chapter 1

Pada saat berlangsungnya proyek #YUI17Melodies kemarin, kami menerima banyak sekali naskah. Diantaranya adalah naskah ini, yang kebetulan tidak sesuai dengan tema pada saat itu. Namun, karena sayang sekali jika naskah ini dibiarkan begitu saja. Jadi kami memuatnya dalam blog ini. Selamat membaca~ 😀

***

Tokyo . . .

Kapan aku bisa mengunjungimu?

Menghirup udara segar di kotamu

Berjalan santai menyusuri tiap sudut kotamu

Akankah Impian ku tercapai?

Dengan keadaanku yang seperti ini?

Kututup buku catatanku malam itu, merenung sebentar atas impian yang baru saja ku tulis. Aku berpikir, begitu percaya dirinya seorang diriku ini bermimpi mencapai negara nan jauh di sana. Tokyo, kota ini memang sudah ku impikan semenjak kecil. kucoba menenangkan diriku sendiri. Berharap kesempatan tersebut datang dari sebuah keajaiban yang dianugerahkan Tuhan untuk diriku.

03.00 WIB

Aku mencoba bangun dari tidur nyenyakku saat mataku masih sulit untuk membuka. Tentu saja aku masih ingin tidur, namun aku teringat ibu yang telah berkecimpung di dapur, sibuk memasakkan makanan untuk kami. Betapa ia bekerja sangat keras dengan keadaannya yang sudah renta. Aku beranjak dari ranjangku lalu  berjalan menuju dapur, jangan salah! Dapur yang kami pakai bukanlah dapur mewah seperti milik orang – orang kaya, melainkan dapur yang masih sederhana. Kami memasak menggunakan kayu bakar di atas tumpukan batu bata. Orang tradisional seperti kami menyebutnya ‘pawon’,memang kehidupan kami tidaklah kaya, kami hanyalah keluarga yang mendudukki tingkat menengah ke bawah bahkan di kampung ini.

Namun aku masih bersyukur dengan keadaanku ini, setidaknya aku masih bisa hidup bersama orang – orang yang ku sayangi, adik dan ibuku.

“Selamat pagi ibu?” sapaku kepada ibu.

“ Pagi Ruki, lekaslah menyapu halaman depan dan mencuci piring ini!” perintah beliau kepadaku

“Baik bu.”

Aku segera melaksanakan perintah ibuku, ternyata tidak membutuhkan waktu lama untuk melaksanakan pekerjaan ini. Masih ada waktu sekitar 1 jam untuk merapikan  buku – bukuku yang akan kubawa ke sekolah nanti.

“Ibu, aku kembali ke kamar.” Seruku

“Baiklah.”

Aku merapikan buku sesuai jadwal hari ini dan mencuri – curi kesempatan membaca kembali beberapa materi. Aku harus tekun belajar, karena keadaanku yang sudah harus disibukkan dengan persiapan materi secara matang di kelas 12 ini.

Beberapa saat kemudian . . .

Aku menatap jam dinding yang tergantung di dinding kamar sampingku. Pukul 04.30, saatnya bagiku untuk mandi, aku harus lekas karena perjalananku ke sekolah tidak sebentar apalagi aku harus naik bus untuk mencapai lokasinya. Setelah semua perlengkapan dari keperluan sekolah dan penampilanku sudah memenuhi kata siap, aku segera berpamitan pada ibu dan berangkat sekolah.

***

Di Sekolah . . .

Tak ada yang asing hari itu, aku mengikuti pembelajaran seperti biasa, hingga akhirnya waktu istirahat tiba, aku mengobrol dengan Rito, sahabat karibku. Kami membicarakan mengenai Universitas yang kami impikan.

“Ruki, ngomong – ngomong kamu berencana ingin melanjutkan kuliah kemana?” Tanya Rito

“Aku tak tahu, kuliah terasa terlalu tinggi dalam ekonomi keluargaku, aku tak tahu apakah aku bisa melanjutkan kuliah atau tidak?” ucapku lesu

“Kau jangan berputus asa dulu, kamu kan pintar? Bisa saja kau dapat beasiswa?”

“Yah, itupun yang aku harapkan.”

Pulang sekolah . .

Aku tidak langsung ke rumah, seperti teman – temanku lainnya. Aku masih harus bekerja menjadi pelayan rumah makan tak jauh dari sekolahku. Sepeninggalan ayah, kami harus bekerja lebih keras untuk menghidupi keluarga, ibuku yang membuka warung belum bisa mencukupi kebutuhan kami yang terbilang cukup banyak. Apalagi aku sudah mulai membayar buku – buku sekolah.

Aku tiba di rumah makan yang cukup besar menurutku. Aku segera berjalan menuju tempat tersebut. Ternyata di dalam, bosku sudah memberi isyarat untuk berjalan lebih cepat.

“Ruki, hari ini pembeli sedang ramai, sebaiknya kamu segera mempersiapkan diri.” Perintah bosku

“Baiklah pak.” Ujarku bergegas untuk berganti baju

Setelah siap dengan seragam pelayan, aku mulai mengantarkan pesanan pembeli ke setiap meja. Saat aku sedang sibuk melayani para pembeli, mataku tak sengaja menangkap sosok gadis yang duduk di meja paling kanan bersama keluarganya. Dia membuatku terpana saat itu.

‘Dia manis juga’

Hingga tepukan seseorang membuyarkan lamunanku.

“Kau, lekaslah antarkan pesanan ini ke meja paling kanan itu.’’ Suruh pelayan lain.

“Hah, ke sana?”

“Iya, cepatlah Ruki!” suruhnya sambil mendorong badanku.

Entah kenapa ada perasaan ganjil saat aku akan mengantarkan makanan ini.

“Selamat menikmati!” ujarku mempersilahkan.

“Terima kasih.” Gadis itu tersenyum padaku.

Aku segera meninggalkan meja tersebut dan kembali ke tempatku. Masih teringat di benakku, wajah gadis itu, manis sekali.

Akhirnya pekerjaan ini selesai, aku duduk beristirahat di salah satu bangku, sekedar menyeka keringatku dan mengipas – ngipas tubuhku dengan koran. Namun pandanganku menangkap sebuah benda di salah satu meja pembeli, meja paling kanan. Aku beranjak menghampiri benda tersebut. Ternyata sebuah dompet biru. Aku membuka dompet tersebut dan menemukan sejumlah uang, KTP, kartu ATM, dan sebuah foto.

‘bukankah ini foto gadis tadi’

Ku ambil KTP nya dan kulihat alamat rumahnya. Tidak terlalu jauh dari sini. Aku berpamitan dengan teman – temanku dan bosku lalu beranjak pergi menuju alamat yang aku baca tadi.

Jl. Pahlawan No.123, Jakarta Barat.

Ternyata tidak terlalu sulit menemukan alamatnya. Aku tiba di depan gerbang sebuah rumah, kupastikan alamat rumah ini. Ternyata benar. aku membunyikan bel di samping pintu gerbang tersebut.

‘Wow, rumah ini besar sekali, sepertinya dia  orang kaya’

Beberapa saat kemudian . . .

Ada yang membukakan pintu gerbang. Kulihat seorang wanita muda berambut panjang memandang ke arahku , Gadis itu. Untuk ke sekian kalinya, parasnya membuatku terkagum – kagum.

“Halo, ada yang bisa saya bantu?” ucap gadis itu penasaran.

“Oh, ya ini aku menemukan dompetmu tertinggal di meja tempat makan tadi.” Kataku gugup sembari menyerahkan dompetku kepadanya.

“Iyakah? Oh benar, ini dompetku. Terima kasih ya.” Ujar gadis itu senang

“Emm, sebaiknya aku pergi dulu ya?” aku berpamitan kepadanya

“Eh, secepat itukah? Sebaiknya kau masuk dulu, inikan belum sore, kita ngobrol sebentar dulu, yuk!”

“Tapi…”

“Ah, ayo masuk!”

Tangannya menarik tanganku dan mengajakku masuk ke rumahnya yang sangat besar itu. Aku memandang sekeliling rumahnya, benar – benar luas dan mewah. Dia mempersilakan aku duduk.

“Oh ya tunggu sebentar, aku akan mengambilkanmu minum.”

“Nggak usah repot – repot!” kataku yang sepertinya tidak dihiraukan, karena dia langsung menghilang saja.

Aku memandang seisi rumah, sempat timbul rasa kagum dalam benakku dan tiba – tiba mataku tertuju di sebuah buku bersampul hitam, di atasnya terdapat sebuah gambar kota Tokyo. Aku mengambil buku tersebut.

“kalau kau menyukainya ambil saja!”

Ujar Gadis itu menghampiriku dan meletakkan dua gelas  minuman di meja.

“Kau suka Tokyo?” tanyaku penasaran.

“Iya, ayah membelikanku buku itu setelah pulang dari sana.”

“Hemm, Tokyo yang indah.” Aku membuka lembar demi lembar buku itu.

“Kita belum kenalan ya? Namaku Cindy, namamu siapa?”

“Oh iya, namaku Ruki, senang bertemu denganmu Cindy.”

Aku duduk di sofa tersebut, kami mengobrol cukup lama sore itu. Sepertinya aku cukup nyaman dengannya.

“Jadi kau sekolah di SMA Sudirman, dekat denganku dong, aku di SMA Kartini!” ujar gadis itu.

“Oh, aku tahu sekolahmu.”

Dan tak terasa hari sudah mulai sore, aku harus segera pulang. Aku berpamitan kepadanya, dia mengantarkanku keluar dari gerbang.

“sering – sering mampir ya!”

“Baiklah aku pulang dulu.”

Dia melambaikan tangannya padaku. Aku pun membalasnya juga. Sungguh menyenangkan hari ini.

***

“Aku pulang.”

“akhirnya kau pulang juga. kenapa sore sekali?” sambut ibuku

“Habis dari rumah teman, bu.” Aku tersenyum lalu mencium tangan ibuku.

“Segeralah mandi dan makanlah.”

“Iya, terima kasih.”

“Kakak!” seorang anak kecil memanggilku ceria

Aku memandang ke arahnya dan menyambut kedatangan adikku ini.

“Hey Santi” aku mengacak – acak rambut adikku.

“Aku bawakan teh untukmu, kak.” Dia menaruh secangkir teh di atas meja makan.

“Kamu perhatian banget, deh. Makasih ya?” ucapku senang sembari mencubit pipi gembul adikku itu.

“kakak, mau lanjut kuliah?” Tanya adikku tiba – tiba.

“masih belum tau, lihat saja nanti.” Jawabku datar

“Nak, kalau kamu ingin kuliah, maaf ibu belum bisa membiayaimu.”

Suara ibu muncul melengkapi percakapan kami. Kemudian Beliau duduk di sampingku. Entah kenapa percakapan ini akan semakin formal.

“iya bu, aku tau. Mungkin aku akan kuliah atau hanya tamat SMA saja. Masih belum tahu, yang bisa kulakukan hanya berdoa dan berusaha, aku pasrah bu.” Ucapku mencoba mencairkan suasana.

“Ingatlah nak, kesuksesan itu hanya berasal dari tanganmu sendiri, bukan dari orang lain. Jadi, mumpung belum terlanjur, manfaatkanlah waktu ini selagi kamu bisa.”

“Aku mandi dulu, kak. Belajar yang rajin ya, hehehe.” Ujar adikku terkikik.

“Kamu juga lho!” balasku

“Ibu ke dapur dulu nak, ingat nasihat ibu tersebut. Jangan sampai engkau menyesal di belakang.”

“Iya, Terima kasih, ibu.”

Aku termangu, berpikir sejenak tentang apa yang barusan disampaikan oleh ibuku. Memang benar nasihat Ibu tersebut. Aku harus lebih giat dan gigih dalam berusaha. Sabar dan  selalu berdoa.

***

Tak terasa, Ujian Nasional semakin dekat, kami murid kelas 12 harus selau menyiapkan diri setiap saat, siap materi namun tetap menjaga kondisi tubuh agar tidak mudah lelah. Guru bahasa Inggris memasuki ruangan kelas 12 IA 2.

“Selamat Pagi anak – anak!” ucap pak Minto

“Pagi…” balas semua siswa serempak.

“Baiklah, hanya dalam hitungan minggu kalian akan menghadapi Ujian Nasional, maka dari itu, silahkan menyiapkan diri sebaik mungkin agar diberi kemdahan dalam mengerjakan. Selain itu, kalian juga harus menyiapkan diri untuk mengikuti tes SNMPTN. Ada keuntungan bagi kalian, jika saja tes SNMPTN kalian kerjakan dengan baik, maka kemungkinan universitas memberikan kalian beasiswa.”

Kami semua memperhatikan pak guru. Dan memberikan semangat pada diri kami masing – masing bahwa kita bisa menghadapi UN, dan lolos SNMPTN. Begitupun aku, keinginanku untuk melanjutkan kuliah sangat besar.

“oh ya, Bagi kalian yang ingin melanjutkan kuliah ke Jepang. Ada beasiswa dari pemerintahan Jepang yang disediakan, kalau ingin bertanya lebih lanjut, silahkan Tanya pada BK, nah sekarang baik kita mulai pelajaran.”

Aku menyerap kata – kata yang disampaikan pak guru tadi. Terutama pada topik beasiswa itu.

“Rito, menurutmu kalau aku coba ikut seleksi beasiswa Jepang itu lolos nggak ya?” tanyaku pada teman sebangkuku.

“Mungkin saja, kamu kan cukup berbakat.” Jawabnya membuatku terhibur.

***

Aku teringat buku pemberian Cindy, ku ambil buku tersebut dan kubuka kembali. Penuh dengan kota Tokyo yang menawan. Keinginanku semakin memuncak untuk menginjakkan kakiku di kota itu. Tapi keraguan itu mulai menghatuiku kembali, mungkinkah aku bisa? Bisakan aku meraih mimpiku? Saat aku membuaka lembaran terakhir, aku menemukan sebuah puisi, Aku memfokuskan tatapanku pada rantaian kalimat yang tersusun indah di atas kertas itu.

Tommorow’s Way

Karena aku lahir untuk hidup

Ku ingin memegang sebuah impian

Ku ingin berlari mengikuti impianku

Aku tak ingin tersandung oleh sebuah penyesalan

ketika Menyongsong Jalan esok

Jalan esok itulah yang kutakuti

Berada pada jalur yang tak bisa kembali

Jantungku berdebar menunggu datangnya esok

Mungkin jalan itu berisi

Kebahagiaan yang mengundang senyum

Ataukah

Keterkejutan yang memaksaku menangis

Namun jangan khawatir

Esok milikku pasti akan berkilau

Aku mencoba mencerna kata – kata yang terlahir pada setiap larik puisi tersebut, dan mengilhami makna yang termuat di sana. Apakah Cindy yang menulisnya?

‘Tomorrow’s Way miliknya akan berkilau?

Mungkinkah  ‘Tomorrow’s Way’ milikku juga akan berkilau?

***

Hari demi hari, Ujian Nasional semakin dekat. Aku semakin giat dalam belajar. Tiap hari, buku – buku ini selalu menemaniku, rangkaian ilmu yang tertuang dalam bentuk tulisan itu selalu memanjakan mataku. Tak terkecuali otakku yang tak lelah untuk bepikir. Ragaku terus terdorong oleh semangat yang tak pernah padam.

Dan akhirnya hari yang ku nantikan itu tiba.

“Selamat mengerjakan”

Semua siswa terlihat serius di tempat duduknya masing – masing. Tangan mereka terlihat jeli mengisi Lembar Jawab yang berada di atas meja. Mereka benar – benar bersemangat. Begitupun aku, yang duduk paling belakang.

4 hari akhirnya berlalu, Ujian Nasional telah berakhir . . .

Selama Hari Tenang . . .

Aku dan Rito berbincang – bincang di depan kelas.

“Rito, apa kau sudah memutuskan tujuanmu berikutnya?”

“Sepertinya aku ingin ke UI, doakan ya!” ucapnya tersenyum

“Pasti dong.”

“Oh ya? Kamu masih berniat dengan beasiswa itukah? Seleksinya dimulai seminggu lagi,” ujar Rito mengingatkanku

“Iyakah? Sepertinya aku ingin mencobanya.”

“aku akan mendukungmu, Ruki. Kau pasti bisa.”

“Terima kasih.”

Hanya berbekal ilmu yang kugali selama ini dan secercah doa dari orang tua, adik, dan teman – teman, Akhirnya kuberanikan diriku untuk mengikuti seleksi tersebut. Pengumuman akan keluar dua minggu kemudian.

***

2 minggu kemudian . . .

‘Triiiittitititit’

Ponselku berdering dalam saku celanaku. Aku menghentikan pekerjaan di tempat makan itu sejenak. Sekedar ingin mengangkat panggilan tersebut.

“Halo”

“Bisa berbicara dengan saudara Ruki Nugraha?” orang di seberang sana bertanya

“Iya, saya sendiri.”

“Oh, kami dari lembaga pemberian beasiswa Jepang, ingin menyampaikan bahwa saudaara lolos seleksi.”

Aku tersentak kaget. Perasaan Bingung, senang, bahkan terharu bercampur jadi satu. Aku tak tahu apa yang harus perbuat saat itu. Tuhan, terima kasih.

“untuk mengikuti tes wawancara akan dilaksanakan selasa depan. Diharapkan saudara datang pukul 10.00 WIB. Sekian informasi dari kami, selamat untuk keberhasilan anda. Selamat sore”

“Terima Kasih.”

Ku matikan ponselku. Aku masih tidak percaya dengan apa yang kudengar tadi. Aku lolos? Sekarang, aku baru percaya bahwa keajaiban Tuhan itu ada.

“Aaaaa, Yess… !” aku berteriak sekencang – kencangnya.

Pelayan lain reflek menengok ke arahku. mereka terheran melihat tingkahku yang sudah tidak wajar ini. Aku berlari memeluk teman – temanku satu per satu. Tingkahku memang sudah di luar batas normal saat itu, tetapi aku tak peduli. Yang aku pedulikan saat itu bahwa kenyataan yang menunjukkan, aku akan ke Tokyo. Aku berpamitan dengan mereka dan berlari keluar dari tempat makan itu.

“Anak itu kenapa ya?” salah satu pelayan bertanya pada pelayan lain  dengan penuh keheranan.

“Aah, tak tahu. Mungkin dia baru saja jadi milyarder.” Jawab yang lain diikuti tawaan orang – orang di sana.

Aku berlari sekencang – kencangnya, tidak ada rasa lelah yang mucul. Kebahagiaanku lah yang paling mendominasi perasaanku kala itu. Berharap aku segera sampai rumah dan mengabarkan berita gembira ini.

“Aku pulang!’’ sapaku sore itu dengan keceriaan yang benar – benar memuncak.

Namun keceriaanku memudar ketika adikku berlari ke arahku dengan raut wajah panik. Raut wajah itu membuat perasaanku berubah 180 derajat dari sebelumnya.

“Kakak, Ibu, !” adikku berbicara terengah – engah tangannya memeluk lutut, keringatnya bercucuran.

“Ibu, Ada apa?”

***

to be continued . . .

***

Ditulis oleh Ingrid Elvina untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s