Tomorrow’s Way – Chapter 2 [Ending]

Pada saat berlangsungnya proyek #YUI17Melodies kemarin, kami menerima banyak sekali naskah. Diantaranya adalah naskah ini, yang kebetulan tidak sesuai dengan tema pada saat itu. Namun, karena sayang sekali jika naskah ini dibiarkan begitu saja. Jadi kami memuatnya dalam blog ini. Selamat membaca~ 😀

***

“Ibu, masuk Rumah Sakit.”

Jantungku serasa berhenti, Ibu? Orang yang amat ku sayangi sakit? Bagaimana bisa?

“Ayo, ke rumah sakit sekarang!”

***

Sesampainya di Rumah Sakit,

Di balik kaca tembus pandang pintu itu, ku lihat sosok yang sedang tidur  terbaring lemah di atas ranjang. Ku buka pelan – pelan pintu tersebut, berharap tidak menimbulkan bunyi sekecil apapun hingga membuat sosok itu terbangun. Aku duduk di sampingnya.

“Ibu, apa yang terjadi?”

Ibu belum terbangun, ia masih memejamkan mata seakan – akan sedang tertidur pulas di sana.

“Kakak, Ibu pingsan saat menjaga warung, lalu orang – orang di sana membawanya ke rumah sakit.” Ucap adikku sedih.

Pintu tersebut terbuka kembali, seorang laki – laki berjas putih menapakkan kakinya masuk ke ruangan kami.

“Nak, apakah ia ibumu?” lelaki itu bertanya

Aku hanya dapat mengangguk tanpa mengalihkan pandanganku dari wajah ibu.

“Dia terkena penyakit leukemia. Dan untuk sementara waktu, dia harus di rawat di Rumah sakit untuk memulihkan kondisinya yang masih lemah.”

“Tapi kami tidak memiliki uang untuk merawat Ibu, dokter.” keputusasaan jelas tergurat di Wajahku saat itu.

“Tapi bukankah, tadi ada gadis yang sudah membayarkan administrasi?”

“Hah? Gadis? Siapa?” aku menolehkan wajahku menatap dokter.

“Kami tidak tahu, karena dia tidak meninggalkan identitasnya, dia hanya membayar sejumlah uang yang diperkirakan sudah cukup untuk membiayai perawatan ibumu yang akan datang.”

Aku berpikir sejenak . . .

Seorang gadis?

***

Aku benar – benar galau saat ini. Apa yang harus kulakukan? Mengapa halangan selalu tiba, saat impianku baru saja akan tercapai. Apa yang sebenarnya direncanakan Tuhan? Aku benar – benar putus asa.

Aku melempar batu kecil itu ke sebuah kolam di depanku. Berulang kali kulakukan hal yang sama. Seolah – olah menggambarkan keadaanku yang benar – benar tidak bersemangat. Ku pandangi kertas pernyataan di genggamanku. Oh, Tuhan, kenapa engkau tidak mengijinkan diriku pergi ke sana, kota impianku. Apakah  usahaku selama bertahun – tahun ini harus sia – sia  seperti ini? Aku tidak rela!

Aku menatap ke langit, ku lihat segerombolan burung yang terbang dengan sangat  indah. Andai aku seperti mereka. Mengibaskan sayap sesuka hati pergi ke tempat yang mereka impikan sebebas – bebasnya.

“Tuhan, aku ingin mengikuti impianku pergi ke tempat di mana matahari itu terbit, ingin terbang ke sana, terbang penuh kebebasan layaknya burung – burung yang engkau ciptakan. Namun aku belum mendapatkan sayapku hingga saat ini. Kapan aku dapat memperolehnya?”

Aku berbicara pada langit kala itu, berbicara sendiri mengungkapkan isi hatiku yang mengganjal karena rintangan ini, namun sepertinya ada seseorang yang datang mendekat.

“Kau sudah menemukan sayapmu Ruki.”

Sepertinya aku sudah tak asing dengan suara ini. Aku menolehkan wajahku ke belakang berusaha mencari sumber suara itu. Cindy?

Gadis itu tersenyum. Senyuman yang aku rindukan selama ini, hanya senyuman itulah yang mungkin dapat menghibur kegalauan hatiku kala itu.

Dia menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Cindy? Sejak kapan kau di sini?”

“Hemm… sejak tadi. Kau saja yang tidak menyadarinya. Ruki, aku ikut prihatin dengan kondisi Ibumu.”

Hah? Aku sedikit heran, mengapa Cindy bisa tau kalau ibuku sedang sakit kala itu.

“Kau, dari mana kamu tau?” aku bertanya dengan penuh keheranan.

“aku yang membawa ibumu ke Rumah sakit saat itu.”

Ruki semakin kaget dengan pernyataan Cindy tadi.

“Jadi, kamu juga yang membiayai perawatan ibuku? Tapi dari mana kamu tau Rumahku?”

“Ya, aku bukanlah tipe orang yang membiarkan orang lain berbuat baik kepadaku tanpa membalas kebaikan orang tersebut seperti kamu, tak mungkin dong, aku hanya mengucapkan terima kasih pada orang yang jujur kayak kamu. Pas kamu pulang dari rumahku, aku mengikutimu, pasti kamu nggak sadar ya, hehehehe?” ucap Cindy terkikik

Ruki benar – benar tertegun kala itu.

“Cindy, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu ini. Terima kasih.”

Cindy tersenyum, tak sengaja ia menatap selembar kertas di gengaman tangan Ruki. iapun mengambil kertas tersebut.

“Apa ini? Waw, kau lolos beasiswa? Selamat Ruki, jadi kapan kamu berangkat ke Jepang?” ujar cindy bersemangat.

Ruki kembali bersedih karena harus mengingat keberhasilan yang sama sekali tidak mengundang kepuasan dan kegembiraan muncul dari diri Ruki.

“Tidak, aku memutuskan mundur. Bagaimana mungkin aku bersekolah sejauh itu, meninggalkan ibuku yang sedang sakit dan terbaring lemah. Anak seperti apa aku? Yah aku akan mendaftar di universitas terdekat saja, agar aku bisa menjaga ibuku yang sudah renta itu.”

“Ruki, kau benar – benar berhati mulia.”

“Aku tidak akan bersikap egois, mementingkan diriku sendiri, namun orang lain menderita. Sekalipun mengorbankan impianku itu” Kataku datar, hatiku begitu sedih kala itu, karena harus menerima kenyataan bahwa impianku tidak terwujud.

“walaupun begitu, aku yakin jalan esokmu akan berkilau di lain waktu, percayalah.” Ujar Cindy memberi semangat.

“Tomorrow’s Way milikku akan berkilau? Aku masih percaya hal ini.”

“Kau benar – benar ingin ke Jepang? Bukankah sudah ku bilang kau sudah menemukan sayapmu Ruki, dan otomatis kau bisa terbang ke sana kan? Mencapai kota impianmu, Tokyo?”

Ruki tertawa, ia berpikir bahwa sungguh mustahil bagi seorang Ruki untuk pergi ke Tokyo.

“Kau bercanda, uang pun aku tak punya. Jadi dengan apa aku akan terbang ke sana?”

“Denganku? Aku akan menyuruh saudaraku untuk menemani ibumu beberapa hari saat kita liburan di sana.”

Ruki tersentak kaget. Dengan Cindy? Bagaimana bisa? Ia menatap Cindy lekat – lekat.

“Iya, aku akan mengajakmu pergi ke Tokyo dengan keluargaku liburan nanti, mau kan?”

Ruki masih belum percaya dengan perkataan Cindy tadi. Ia sangat terharu.

“Terima kasih Cindy.”  Refleks Ruki memeluk Cindy saking bahagianya.

Hari demi hari . . .

Akhirnya pengumuman hasil Ujian Nasional itu keluar. Dan betapa terkejutnya aku saat kulihat ternyata aku memperoleh nilai tertinggi ke tiga di sekolahku. Aku bahagia sekali waktu itu. Kebahagiaanku tak berhenti hanya sampai di situ, tes SNMPTN di universitas yang aku tuju akhirnya juga mencapai kesuksesan, dan tanpa diduga sebelumnya aku memperoleh beasiswa di universitas tesebut.  Aku sangat bersyukur, ini semua juga berkat bantuan gadis itu. Terima Kasih, Cindy.  Aku akan terus berjuang hingga tomorrow’s way milikku berkilau seperti yang kuharapkan, meski bukan di tempat di mana matahari itu terbit.

***

Aku berharap bisa menemui Cindy hari ini , aku berdiri depan rumahnya namun ternyata, ia baru pulang sekolah, ku lihat dia sedang berjalan menuju rumahnya.

“Hai, Cindy!” aku melambaikan tanganku ke arahnya.

“Hai.” dia berlari menghampiriku dengan wajah cerianya, wajah yang amat kusukai

Saat ia sudah mendekat,

“Ada apa Ruki?”

Aku tak menjawab pertanyaannya, aku melangkah maju kemudian memeluk tubuh Cindy. Aku berbisik di telinganya.

“Cindy, aku suka kau.”

***

End

***

Ditulis oleh Ingrid Elvina untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini

Advertisements

About yui17melodies

Blog ini dibuat dalam rangka proyek menulis #YUI17Melodies yang akan diselenggrakan selama 17 hari dengan menggunakan 17 lagu YUI yang berbeda setiap hari. Follow us : @YUI17Melodies

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s