Tema 11 #MelodiHijauOranye

Selamat pagi 😀

Saatnya pengumuman tema 11 #MelodiHijauOranye. Tema kali ini adalah sumbangan dari Koordinator Regional Jakarta, yaitu…

My Generation

Sudah tahu kan lagunya? Nah sekarang disimak yuk terjemahan lirik Bahasa Indonesianya:

aku bernapas di angin yang bertiup di padang
dari jendela yang kecil dan bernapas panjang

aku menjadi muak menerima sesuatu yang bagus
dan aku menjadi sendirian
tapi bukan berarti aku menyerah

ketika bel sekolah berhenti berbunyi
kenyataan seharusnya bergerak lebih cepat
Continue reading

Advertisements

[Tema 11] Tertawa Bahagia

Saat itu

Memandangi awan

yang mengejar hari esok

Aku tak ingin berdiam diri

Aku beranjak ke sisi yang lain

Aku ingin terus memandangnya

Menyambutnya

 

Tersesat? Tak tahu arah?

Jangan takut dan termenung

Ambisimu, semangatmu

Jangan biarkan mereka berlalu

Hanya perlu terus berlari

Lepaskan semua

Kepakkan sayapmu

 

Hal-hal kecil itu

terus terbesit di benakku

Tapi di saat seperti itulah

Aku merasakan kehangatanmu

Walau hanya perasaanku saja

Aroma bunga sakura di musim semi

Perlahan membuatku bahagia

Tertawa bahagia

Saat mengingatnya

 

Menggapai puncak bukit yang tinggi

Kucoba hirup udara segar ini

sambil menatap sekeliling

Ah… Benar-benar mempesona

Suasana yang sejuk

Suasana yang sama

seperti saat melihat laut

 

Ketika saa-saat sulit menghantui

Aku tidak aapa-apa

Aku akan ke tempat ini

Melepas semuanya

Senyum kecilmu

Alasanku untuk menjadi lebih kuat

Aroma bunga sakura di musim semi

Perlahan membuatku bahagia

Tertawa bahagia

Ditulis oleh Bram Marcellino untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

[Tema 11] Senyumanmu

Matahari di siang ini bersinar dengan redupnya. Sang surya bersembunyi malu-malu di balik awan. Dua sahabat karib sedang bercengkrama dengan asyiknya di atas pasir putih laut Okinawa. Yang satu sedang bermain-main dengan pasir dan membuat sebuah istana kecil, sedangkan yang satunya lagi sedang berguling-guling di tanah menghitung awan yang beriak-riak di langit.

“Yuna, lihat deh awan yang itu. Mirip Shiro-chan ya?” Celoteh Suzu membicarakan anak kucingnya yang baru beberapa minggu saja usianya.

“Hmm.” Jawab Yuna asal sambil terus membangun istana pasirnya.

“Kamu sampai kapan disini?” Tanya Suzu kemudian.

Suzu memang selalu berceloteh tidak ada habisnya. Selalu saja ada sesuatu hal yang diutarakannya pada Yuna. Yuna dan Suzu selalu bersama-sama sejak kecil, mereka bertemu pertama kali saat di taman kanak-kanak. Sejak saat itu, mereka tidak bisa dipisahkan. Tetapi setahun yang lalu, keluarga Yuna tiba-tiba harus pindah ke Tokyo. Jauh dari Suzu.

Yuna terdiam sejenak dari aktivitasnya, “lusa aku pulang.” Katanya lirih.

“Baiklah. Kalau begitu, ayo kita keliling kota. Kebetulan aku bawa kamera punya ayah.” Balas Suzu menyembunyikan rasa kecewanya.

“Tunggu dulu. Aku mau menyelesaikan ini dulu.” Balasnya cepat.

Suzu berdiri dengan tiba-tiba. Seluruh pasir kering yang menempel pada tubuhnya meluruh dengan cepat. Ia menarik tangan Yuna dengan tidak sabar. “Yuna… ayo.” Desaknya.

“Iya iya, ayo.” Balasnya sambil tersenyum manis pada Suzu.

Dua gadis cilik itu berlarian sepanjang pantai menuju ke tempat sepeda mereka di parkirkan. Mereka mendiskusikan beberapa tempat yang akan mereka tuju. Suzu yang periang ingin pergi ke kolam renang, sedangkan Yuna yang kalem lebih suka pergi mengunjungi akuarium bawah laut di kotanya.

“Karena Yuna akan pulang ke Tokyo dua hari lagi. Maka… kita pergi ke tempat yang paling Yuna inginkan saja.” Kata Suzu mengabulkan keinginan Yuna.

Yuna bersorak gembira dan langsung merangkul tubuh sahabatnya. Kemudian mereka mengayuh sepeda mereka cepat-cepat berbalapan menuju akuarium tersebut. Angin hangat menerbangkan rambut mereka hingga berkibar-kibar. Mereka memacu sepedanya berkelok-kelok sambil tertawa riang.

Tidak terasa mereka telah tiba di pelataran akuarium itu. Yuna dan Suzu langsung memarkirkan sepeda mereka dan mulai memasuki bangunan itu. Mereka disambut oleh fauna laut beraneka ragam dan berwarna-warni. Suzu mulai berceloteh dengan riang lagi. Membaca setiap petunjuk yang tertera di kaca akuarium.

“Yuna, berdirilah disana. Akan aku foto. Senyum yang manis ya.” Ucapnya. Bunyi klik pada kamera merekam momen Yuna yang sedang tersenyum dengan cerahnya. Suzu pun mengingat gambaran itu di dalam kepalanya.

Mereka berputar-putar di dalam akuarium dengan tidak mengenal lelah. Berlarian kesana-kemari dan memfoto setiap detil yang menarik. Tiba-tiba Yuna memeluk Suzu dari belakang.

“Suzu. Terima kasih ya untuk dua minggu ini.” Ucapnya sedih.

Suzu mencengkram lengan Yuna yang melingkar pada tubuhnya dengan erat.

“Berjanjilah akan datang kesini lagi.”

“Aku janji.” Yuna mulai terisak.

Tiba-tiba Suzu melepaskan rangkulan Yuna dan berbalik berhadapan dengannya.

“Selamanya teman.” Katanya sambil menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman.

Yuna menghapus air mata yang jatuh di pipinya lalu menyambut sodoran tangan itu.

“Iya. Teman selamanya.”

“Jangan menangis. Ayo  kita buat kenangan sebanyak-banyaknya dengan wajah penuh senyum dan tawa.” Ucap Suzu.

Yuna mengangguk menyetujui lalu kemudian mereka kembali saling menghiasi wajah keduanya dengan senyum.

Berlatarkan sebuah akuarium raksasa dengan lima ekor penyu di dalamnya, mereka saling berpegangan tangan. Senyum salah satu dari mereka dapat menjadi semangat dan penguat bagi yang lainnya. Maka terus tersenyumlah… wahai sahabatku. Hari akan menjadi lebih sempurna jika kamu terus tersenyum. Ucap Suzu dalam hati.

Mereka saling percaya bahwa hari esok akan baik-baik saja. Walaupun mereka terpisahkan ruang dan waktu, tapi hati mereka saling tertaut.

Ditulis oleh Tammy Rahmasari untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

[Tema 11] Furoshiki

Pagi ini kamarku berantakan sekali. Baju-bajuku berserakan di atas kasur. Hairpin dan aksesoris lainnya juga berhamburan di atas meja. Aku bingung. Bingung mau memakai baju apa. Pakai aksesoris apa.
Hari ini adalah first-dateku dengan mu. Dulunya aku menganggap teman-temanku terlalu berlebihan saat mereka bercerita tentang persiapan first-date yang ribet. Mesti ini dan itu. Sekarang aku baru mengerti setelah mengalaminya sendiri.
Hampir sejam aku hanya diam terpaku menatap tumpukan bajuku. Akhirnya ku putuskan untuk memilih satu. Dress pink dengan panjang selutut. Kemudian memberi wajahku make-up seadanya dan sebagai pemanis ku jepitkan hairpin berbentuk potongan jeruk di rambut sebahuku.
“Ibu, aku berangkat ya!” pamitku pada ibu.
“Eh, o bento1??” Ibu menanyakan bekal yang telah ku buat subuh tadi. Ah, iya! Cepat-cepat aku lari ke dapur dan mengambil kotak bekal yang telah kubungkus dengan furoshiki2.
Ittekimasu3!!”
***
Aku menunggu di sebuah halte. Kamu bilang akan menjemputku di sini. Aku berdiri sambil melirik kanan kiri. Mencari sosokmu. Hingga akhirnya kamu muncul dari salah satu sudut jalan dengan sepedamu.
“Yuk, naik!” katamu sambil menepuk-nepuk sadel belakang.
“Hmmm.” Aku tersenyum.
Sepanjang perjalanan kamu menceritakan beberapa lelucon. Walau sebenarnya tidak lucu, entah kenapa aku ikut tertawa bersamamu. Sesekali kamu juga menyiulkan lagu aneh.
“Eh, kita mau ke mana sih?” tanyaku di sela-sela ceritamu.
“Ke suatu tempat.” Jawabmu sambil tertawa licik. Ku balas dengan mencubit lengan kananmu.
“Sakit!” kamu meringis. Aku hanya terkekeh.
***
“Huaaaa… Laut!!” seruku disambut tiupan angin laut yang lembut.
“Indahnyaaa!!” aku menatap takjub dengan pemandangan dihadapanku.

Kruuukuuuk. Tiba-tiba terdengar suara aneh dari perutmu. Kamu tertawa. Aku juga ikut tertawa.
“Udah lapar ya?” tanyaku. Kamu mengangguk. Kemudian segera menggelar tikar yang telah kamu persiapkan di atas pasir putih. Aku mengeluarkan bekal dari tasku dan duduk di atas tikar itu.
“Eh, furoshiki ini…” katamu sedikit terkejut melihat furoshiki yang kugunakan untuk membungkus bekal yang kubuat.
“Iya, ini dari kamu…”

Furoshiki ini adalah benda pertama yang kamu beri pada ku. Aku tidak tahu kenapa kamu memberikannya. Waktu itu aku tidak sedang berulang tahun dan bukan pula hari valentine. Tapi, tahukah kamu? Aku senang kamu memberikannya padaku. Sebab, sejak hari itu kita semakin akrab dan akhirnya bisa seperti sekarang.
“Tau gak kenapa aku kasih itu ke kamu?” aku menggeleng.
“Waktu nemenin adekku ke mini market, aku melihat furoshiki itu dan langsung teringat kamu. Warna birunya lembut seperti langit hari ini. Lembut seperti kamu. Jadi, aku langsung membelinya!” jelasmu kemudian tertawa. Aku hanya tersipu.
Aku senang hari ini kamu banyak tertawa. Aku senang melihatmu tertawa lepas seperti itu. Semoga aku bisa terus melihat senyum itu. Kore kara mo4Zutto5
__________________________________
1 O Bento? : bekalnya?
2 Furoshiki : kain pembungkus (biasanya dipakai untuk membungkus kotak makanan/bekal dan botol minum)
3 Ittekimasu : ucapan “aku berangkat”
4 Kore kara mo : mulai saat ini
5 Zutto : selamanya
Ditulis oleh Febriyani Syafri untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

[Tema 11] Benda Terakhir Darimu

Gelap. Jendela tak terbuka, tiraipun dibiarkan menutupinya, menghalangi masuknya sinar matahari ke dalam kamar. Benda-benda dibiarkan berserakan di atas meja. Sprei kumal kumal dan lusuh, tak rapi menutupi kasur. Bantal dan guling berserakan di lantai. Tak ubahnya kapal pecah, seperti itulah keadaan kamar itu saat ini.

Penghuni kamar tersebut masih di dalam kamar. Di pojok kamar ia melamun, sesekali matanya berair, mengangis. Bajunya lusuh sekali, rambutnya berantakan, wajahnya tak segar. Tiada tanda-tanda semangat dalam hidupnya. Emi, tengah dalam kesedihan yang mendalam karena Shizuka, sahabat karib sejak ia duduk di bangku taman kanak-kanak yang disayanginya pergi meninggalkan ia selamanya. Shizuka meninggal karena kecelakaan tiga hari yang lalu.

Emi baru tahu tentang berita itu, ketika ia pulang dari Perth. Ia kembali ke Okinawa berencana untuk berlibur di rumah tantenya, Rinko, sekalian dengan Shizuka. Namun sayang, Shizuka telah tiada. tentu saja kabar duka itu membuat luka yang amat dalam di hati Emi. Sampai-sampai ia tak mau makan. Tante Rinko sendiri bingung harus bagaimana. Sudah dibujuk dengan berbagai cara, namun tetap saja Emi tak bergeming dengan pendiriannya.

Tok! Tok! Tok! Kamar Emi diketuk dari luar. Emi tak memperdulikannya.

“Tante masuk ya?” terdengar suara tante Rinko dari luar kamar. Tante Rinko kemudian masuk ke kamar. Terlihat ia membawa sesuatu ditangannya. Emi sama sekali tampak tak perduli dengannya.

“Tante tak mau memaksa kamu makan,” kata tante Rinko, duduk di samping Emi. “Ini adalah benda yang ingin Shizuka berikan padamu dulu sebelum ia meninggal. Sebenarnya ia ingin mengirimkannya ke Perth, namun kucegah karena seminggu lagi kau kan kembali kesini.”

Tante Rinko menyodorkan sebuah CD. Itu I LOVED YESTERDAY, album YUI. “Coba dengarkan lagu track 1,” tante Rinko kembali berkata. Ia kemudian berdiri. “Dengarkan baik-baik,” kata tante Rinko sebelum ia melangkah, keluar dari kamar Emi.

Sepeninggal tante Rinko, Emi menoleh pada CD yang ditinggalkan tantenya itu. Ia mengambilnya, melihat daftar lagunya. Track 1, Laugh Away. Emi bediri, berjalan menghampiri CD player di kamarnya. Ia membuka CD itu, mengambil kepingan di dalamnya. Ia memasukkan ke dalam CD playernya, kemudian memutarnya. Terdengar lagu YUI, Laugh Away mengalun.

Itsudatte makenai you ni nee
Sou waratte sotto waratte laugh away
Sou waratte itsumo waratte

Ada sesuatu di mata Emi, pipinya terasa basah, ia menangis. “Shizuka,” katanya dalam tangis. Lagu itu seolah pesan terakhir dari Shizuka untuknya, untuk tetap tersenyum, tetap tertawa, seperti Emi yang dikenal Shizuka.

“Maafkan aku Shizuka, aku telah berbuat bodoh. Gomen ne*,” ucap Emi sambil menghapus air matanya. Ia akhirnya tersenyum.

*gomen ne (bahasa Jepang): maaf

Ditulis oleh Rizqi Arum Prastuti untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat disini

[Tema 11] Spirit

Kala mentari terbit membuka pagi
Ku kayuh sepedaku dengan semangat
Dengan gulungan mimpi yang aku bawa
Berharap dapat melukisnya di langit sana

Ketika aku tersandung
Aku harap uluran tanganmu yang menyelamatkanku
Kita rentangkan tangan dihamparan padang rumput
Dan meneriakkan mimpi-mimpi kita

Melepaskan segala keraguan
Melepaskan segala ketakutan
Dan kita tertawa bersama
Menumbuhkan gelora semangat dalam dada

Keyakinan itu tumbuh layaknya bunga sakura di musim semi
Dan aliran angin serasa memberiku kekuatan
Lirih lagu itu kau dendangkan
Laugh away

Ditulis oleh Vy Pratama untuk #YUI17Melodies. Tulisan asli dapat dilihat di sini

Judul Lagu 11 #YUI17Melodies

Konbanwa 😀

Langsung aja ya, tanpa basa-basi. Hehe :p

Tema judul lagu #YUI17Melodies untuk hari ini adalah

Laugh Away

Ayo dibaca lirik terjemahannya dan mulai menulis :

Saat aku melihat awan menghilang menuju esok
Walaupun begitu, aku tetap mengayuh sepedaku, yeah!
Mendaki menuju Sisi langit yang lain
Karena aku merasa bisa mengatasinya suatu hari

Saat kau tersesat, larilah larilah
Janganlah kehilangan ambisimu, larilah larilah
Regangkan lenganmu Continue reading